kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Era motor listrik segera dimulai, produsen sudah berani unjuk gigi tahun ini


Kamis, 31 Januari 2019 / 19:38 WIB
Era motor listrik segera dimulai, produsen sudah berani unjuk gigi tahun ini

Reporter: Eldo Christoffel Rafael | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Setelah meluncurkan motor skutik premium PCX versi bensin dan hybrid, PT Astra Honda Motor (AHM) secara resmi meluncurkan Honda PCX Electric. Ini merupakan sepeda motor listrik ketiga yang pernah dikembangkan oleh Honda.

Sejarah motor listrik Honda telah dikembangkan dalam 25 tahun terakhir. Pertama lewat Honda CUV-ES pada tahun 1994 yang menggunakan penggerak baterai Ni CD. Dan pada tahun 2010 Honda EV Neo dengan baterai Li-ion.


Motor listrik yang baru dikembangkan pada PCX Electric ini menggunakan dua baterai lithium-ion masing-masing 50,4V dengan densitas tinggi yang dipasang secara serial. Konstruksi motor listrik menggunakan struktur Interior Permanent Magnet (IPM) demi mendapatkan efisiensi energi dan performance motor listrik yang optimal.

Honda PCX Electrix menghasilkan output maksimum 4.2kW. Unit daya yang kuat dan ringkas sanggup menjaga suhu sepeda motor serta mengontrol aliran listrik secara lancar dan presisi. Sistem elektrifikasi ini membuat pompa oli, radiator, dan kopling tidak diperlukan.

Untuk mengisi baterai kosong, dua Honda Mobile Power Pack dapat terisi penuh dalam pengisian selama 4 jam saat menggunakan pengisi daya opsional dengan metode off-board. Terdapat pula cara pengisian menggunakan sistem on-board (terkoneksi langsung dengan listrik) dengan masa pengisian 6 jam.

Thomas Wijaya, Marketing Director PT Astra Honda Motor (AHM) menjelaskan sistem penjualan secara massal secara konsumen tidak dilakukan. Namun sistem penyewaan kepada perusahaan atau business to business (b2b) yang dipilih. "Kami buka kesempatan untuk perusahaan yang mau menyewa di area Jakarta. Tidak kami batasi unitnya tapi kami fokus untuk sewakan ke perusahaan swasta atau institusi pemerintahan," kata Thomas, usai peluncuran, Kamis (31/1).

Biaya sewa per unit dibanderol Rp 2 juta per bulan. Untuk termin waktu, AHM memprioritaskan bagi penyewa yang mau menggunakan kendaraan dalam jangka waktu dua sampa tiga tahun. Hal ini dalam rangka analisa kebiasaan konsumen, jarak dan waktu tempu yang digunakan pengemudi. Sayangnya target jumlah perusahaan yang dibidik belum dibeberkan. "Biaya ini tak hanya motor tapi seluruh infrastrukturnya. Mulai dari swap baterai, off boardnya juga disiapkan," jelasnya.

Motor ini telah mememiliki dua unit baterai portabel yang disebut Honda Mobile Power Pack mampu menjalankan sepeda motor sekitar 69 km dalam sekali pengisian penuh (hasil pengujian dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam secara konstan).

Honda Mobile Power Pack bisa diisi ulang menggunakan dua mekanisme, yakni off-board charging (mengganti dua baterai kosong dengan baterai yang sudah terisi/ swap system), atau menggunakan konektor yang bisa disambungkan dengan listrik gedung atau perumahan (on-board charging). "Untuk yang mengelola baterainya ada pihak ketiga yang membantu urusan limbah baterainya," tambahnya.

Selain itu motor listrik yang akan segera keluar yakni Gesits. Pengembangan Gesits kemudian melibatkan lebih banyak institusi, universitas, dan perusahaan. Sebut saja Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sebelas Maret (UNS), PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi, PT Pindad, PT Len Industri, PT Pertamina, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Gesits Technologies Indo.

Harun Sjech, Chief Executive Officer PT Gesits Technologies Indo menjelaskan tahun ini penjualan Gesits akan resmi dilaksanakan. "Lagi disiapkan dan kita usahan mulai kuartal I-2019," kata Harun kepada KONTAN, Kamis (31/1). Harga jual belum dibeberkan. Tapi manajemen Gesits memilih untuk konsentrasi penjualan massal. Mulai dari konsumen biasa, institusi pemerintah maupun perusahaan.

Adapun produksi Gesits di bawah PT Wijaya Manufakturing. Ini adalah perusahan patungan antara Wijaya Karya Industri dan Konstruksi, dengan Gesits Technologies. Lokasi pabrik berada di kawasan industri Wijaya Karya yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Nilai tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sepeda motor listrik itu mencapai 80%.

Manager Public Relation PT YIMM Antonius Widiantoro menjelaskan pihaknya masih studi kendaraan listrik. Adapun tahun akhir 2017 lalu, Yamaha telah sempat menampilkan kendaraan listriknya E-Vino di Indonesia. "Untuk kendaraan listrik kami masih terus pelajari dan belum berencana untuk menjual secara komersil," kata Anton kepada KONTAN (31/1).

Yamaha saat itu studi dengan meminjamkan kendaraannya untuk diuji coba dengan empat institusi, di antaranya Kebun Raya Bogor, Universitas Pelita Harapan (UPH), PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), dan The Breeze BSD.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto menjelaskan komitmen Kemenperin dalam memacu kendaraan listrik, terwujud dari inisiasi pembuatan peta jalan pengembangan industri otomotif nasional, yang salah satunya fokus pada produksi kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).

“Pada program LCEV itu termasuk di dalamnya adalah kendaraan listrik. Selain itu, kami juga sudah menyelesaikan pengkajian terhadap rancangan Peraturan Presiden tentang kendaraan bermotor listrik,” tuturnya beberapa hari lalu.

Langkah lainnya yang perlu dilakukan dalam rangka memperkenalkan kendaraan ramah lingkungan, di antaranya terkait kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, adopsi teknologi, dan regulasi.

“Regulasi itu termasuk juga dukungan kebijakan fiskal agar kendaraan electrified vehicle dapat dimanfaatkan oleh para masyarakat pengguna tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi,” imbuhnya.

Harjanto menyebutkan, misalnya dukungan insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama seperti produsen baterai dan pembuat motor listrik (magnet dan kumparan motor). “Kami juga telah mengusulkan super tax deductions sampai dengan 300% untuk industri yang melakukan aktivitas R&D (research and development, and design),” ujarnya.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×