kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.944.000   28.000   0,96%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

ESDM: Kesepakatan Mineral Kritis RI–AS Fokus Investasi, Bukan Ekspor Mentah


Jumat, 20 Februari 2026 / 17:24 WIB
ESDM: Kesepakatan Mineral Kritis RI–AS Fokus Investasi, Bukan Ekspor Mentah
ILUSTRASI. Ilustrasi Kementerian ESDM (KONTAN/Baihaki) Kementerian ESDM menyatakan kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS terkait mineral kritis tidak membuka keran ekspor bahan mentah. ?


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait mineral kritis tidak membuka keran ekspor bahan mentah. Dus, komoditas mineral tetap diprioritaskan untuk pengolahan di dalam negeri.

Kesepakatan tersebut tercantum dalam Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika Serikat–Indonesia yang ditandatangani pada Jumat (20/2/2026). Dalam dokumen itu, Indonesia disebut akan menghapus pembatasan ekspor mineral kritis ke AS sebagai bagian dari kerja sama perdagangan timbal balik kedua negara.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengungkapkan, klausul mineral kritis dalam perjanjian tersebut lebih diarahkan untuk mendorong investasi, bukan ekspor bahan mentah.

Baca Juga: Daya Intiguna (MDIY) Jadikan Ramadan–Lebaran 2026 Sebagai Pendorong Kinerja 2026

“Itu lebih ke kerja sama di bidang investasi ya. Mereka (Amerika Serikat) akan berinvestasi di Indonesia,” ujar Dwi Anggia di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, detail implementasi kerja sama tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.

Dalam dokumen perjanjian disebutkan, penghapusan pembatasan ekspor mineral kritis bertujuan memperkuat konektivitas rantai pasok industri antara Indonesia dan AS.

“Untuk memperkuat konektivitas rantai pasokan antara para pihak, Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor komoditas industri ke Amerika Serikat, termasuk mineral kritis,” demikian bunyi dokumen tersebut.

Lebih lanjut, Indonesia dan AS sepakat mengintensifkan kerja sama untuk mempercepat penyediaan mineral kritis yang aman, termasuk unsur tanah jarang. Kerja sama tersebut mencakup kegiatan penambangan, pengolahan, hingga produksi hilir mineral kritis berbasis pertimbangan komersial.

Dokumen itu juga menyebutkan, Indonesia akan menggandeng perusahaan-perusahaan AS dalam pengembangan sektor unsur tanah jarang dan mineral kritis untuk memastikan rantai pasokan yang aman dan terdiversifikasi.

Selain itu, pemerintah berkomitmen memberikan kepastian usaha bagi pelaku industri mineral kritis untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dan ekspansi operasional.

Baca Juga: Indonesia Targetkan Impor Minyak dan Gas dari AS US$ 15 Miliar per Tahun

Selanjutnya: Harga Pangan Naik Awal Ramadan, Cabai Rawit Tembus Rp 130.000 per Kilogram

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Banyuwangi Ramadan 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×