Reporter: Vina Elvira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) membidik pertumbuhan penjualan dan laba sebesar 20% pada tahun 2026.
Target tersebut dipasang seiring tren peningkatan permintaan sejak kuartal IV-2025 yang berlanjut hingga awal tahun ini.
Sekretaris Perusahaan COCO Gendra Fachrurozi mengatakan, memasuki kuartal I-2026, kinerja perseroan menunjukkan tren yang positif.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Raih Kontrak Rp290,9 Miliar Bangun SMA Unggul Garuda di Kaltara
“Kinerja COCO menunjukkan tren pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan. Peningkatan ini ditopang oleh beberapa faktor utama yang sudah berjalan sejak kuartal IV-2025 hingga saat ini,” ujar Gendra kepada Kontan.co.id, pekan lalu.
Dorong Penjualan B2B dan Ekspansi Kerja Sama
Gendra menjelaskan, COCO tengah menjalankan sejumlah proyek kerja sama strategis dengan retail bakery ternama di Indonesia yang secara langsung mendorong peningkatan volume penjualan business-to-business (B2B).
Perseroan juga aktif berpartisipasi dalam pameran makanan dan minuman berskala nasional dengan reputasi kuat di industri.
Baca Juga: Listrik Mandiri Pemegang Wilayah Usaha Capai 26 GW, PLN Berpotensi Dirugikan!
Langkah ini tidak hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga menghasilkan pipeline kerja sama baru dengan distributor dan pelaku usaha kuliner.
“COCO mencatat peningkatan permintaan yang berkelanjutan, sehingga outlook kuartal I-2026 dipandang positif, terutama dengan momentum Ramadan dan Lebaran sebagai peak season industri cokelat dan bakery,” ujarnya.
Antisipasi Lonjakan Permintaan Ramadan
Dari sisi operasional, COCO telah menyesuaikan kapasitas produksi dan jadwal distribusi guna memastikan ketersediaan produk selama periode Ramadan dan Lebaran.
Baca Juga: Autopedia (ASLC) Optimistis Penjualan 2026 Tumbuh Dobel Digit Jelang Momentum Lebaran
Perseroan juga memperkuat manajemen persediaan dan peramalan permintaan (forecasting) di seluruh kanal distribusi, serta mengoptimalkan jalur distribusi last mile, termasuk meningkatkan intensitas pengiriman ke wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan produk di rak (on-shelf availability) dan meminimalkan potensi kehilangan penjualan (lost sales).
Waspadai Volatilitas Harga Kakao
Di sisi lain, COCO mewaspadai volatilitas pasokan dan harga kakao global. Produksi di negara penghasil utama seperti Ghana dinilai rentan terhadap perubahan iklim, termasuk curah hujan tinggi, suhu ekstrem, hingga serangan hama dan penyakit tanaman.
Risiko cuaca ekstrem seperti El Niño juga menjadi perhatian karena berpotensi menekan hasil panen dan mengganggu stabilitas pasokan jangka menengah.
Baca Juga: ESDM Resmikan Pengiriman Perdana Pipa Proyek Dusem, Nilai Investasi Rp 6,5 Triliun
Untuk menjaga profitabilitas, COCO menerapkan penyesuaian harga secara selektif dan moderat, bukan kenaikan agresif, dengan tetap menjaga persepsi nilai (value perception) di mata konsumen.
“Perseroan juga memperkuat komunikasi ke pelanggan B2B agar penyesuaian harga dipahami sebagai bagian dari sustainability bisnis, bukan semata-mata cost passing. Dengan pendekatan ini, perseroan tidak hanya menjaga profitabilitas, tetapi juga kepercayaan jangka panjang customer dan mitra bisnis,” tandas Gendra.
Selanjutnya: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Sekuritas Jumat (20/2)
Menarik Dibaca: IHSG Diproyeksi Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Sekuritas Jumat (20/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)