Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kebutuhan dana insentif biodiesel untuk program mandatori B40 pada 2026 berada di kisaran Rp 51 triliun. Nilai tersebut relatif sejalan dengan alokasi insentif biodiesel pada 2025.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, kesamaan besaran insentif tersebut seiring dengan volume biodiesel 2026 yang ditetapkan sebesar 15,65 juta kiloliter (kl), tidak jauh berbeda dibandingkan alokasi 2025 yang mencapai 15,6 juta kl.
Baca Juga: Batubara Kebanjiran Pasokan, PWYP Minta Pemerintah Rem Produksi
Menurut Eniya, besaran dana insentif biodiesel 2026 masih bersifat proyeksi dan akan diputuskan secara resmi melalui rapat Komite Pengarah (Komrah) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan depan.
“Karena kenaikannya hanya sedikit. Proyeksi kebutuhan solar dari BPH Migas dan Ditjen Migas juga hampir sama dengan tahun lalu. Jadi kemungkinan dananya juga hampir sama, mungkin naik sedikit,” ujar Eniya di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (7/1/2026).
Eniya menjelaskan, alokasi biodiesel B40 pada 2026 untuk sektor public service obligation (PSO) ditetapkan sebesar 7,45 juta kl, sementara alokasi non-PSO mencapai 8,19 juta kl.
Baca Juga: Begini Jurus Diamond Citra Memperkuat Arah Pengembangan Produk Berbasis Segmen Urban
Penetapan tersebut mempertimbangkan realisasi penyaluran biodiesel sepanjang 2025, di mana sektor non-PSO tercatat lebih tinggi, sekitar 7,4 juta kl, dibandingkan realisasi PSO yang mencapai 6,8 juta kl.
“PSO memang lebih rendah dibandingkan non-PSO. Non-PSO cukup tinggi realisasinya,” tutup Eniya.
Selanjutnya: Batubara Kebanjiran Pasokan, PWYP Minta Pemerintah Rem Produksi
Menarik Dibaca: 9 Cara Mengurangi Selulit pada Kulit yang Dapat Anda Coba
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













