kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

ESDM Sebut Nilai Ekspor Nikel Naik 10 Kali Lipat


Senin, 08 Desember 2025 / 13:06 WIB
ESDM Sebut Nilai Ekspor Nikel Naik 10 Kali Lipat
ILUSTRASI. Smelter feronikel Antam.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lonjakan nilai ekspor nikel dan produk turunannya sejak kebijakan larangan ekspor bijih nikel diberlakukan pada 2020.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, nilai ekspor nikel dan turunannya melonjak 927% atau naik 10,27 kali dari US$ 3,3 miliar pada 2017 menjadi US$ 33,9 miliar pada 2024.

Hilirisasi adalah bagian dari strategi kemandirian bangsa dan pondasi untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang berlandaskan pada transformasi ekonomi berbasiskan nilai tambah,” ujar Yuliot dalam pembentukan Forum DPRD Provinsi Penghasil Nikel di Palu, Sulawesi Tengah, dalam keterangan resmi, Minggu (7/12/2025).

Baca Juga: Indonesia Terjebak Perangkap Nikel Akibat Strategi China?

Forum yang digagas DPRD Sulawesi Tengah tersebut menghimpun lima DPRD provinsi yang merupakan daerah penghasil nikel, yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.

Pembentukan forum ini dipandang sebagai langkah politik daerah untuk memperkuat posisi tawar dalam pengawasan industri nikel sekaligus menyampaikan aspirasi atas distribusi manfaat hilirisasi.

Yuliot memaparkan, saat ini terdapat 365 izin usaha pertambangan (IUP) nikel di enam provinsi penghasil. Sementara di sisi hilir, terdapat 79 smelter yang sudah beroperasi, 74 unit dalam tahap konstruksi, dan 17 smelter dalam tahap perencanaan dan perizinan.

Pemerintah memperkirakan hilirisasi mineral akan menyumbang investasi hingga US$ 618 miliar dan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru pada 2040. Meski demikian, Yuliot mengingatkan agar setiap aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral tetap mematuhi praktik pertambangan yang baik, termasuk pengendalian emisi dan pemulihan lingkungan pascaoperasi.

Selanjutnya: ACC Optimistis Industri Multifinance Dapat Catatkan Kinerja Positif pada 2026

Menarik Dibaca: Katalog Promo Alfamidi Hemat Satu Pekan 8-14 Desember 2025, Khong Guan Harga Spesial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×