Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra menyusul cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan duka cita serta memastikan penanganan warga terdampak menjadi prioritas utama pemerintah.
"Kami di Kementerian ESDM menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah penanganan warga terdampak dan pemulihan wilayah," kata Plt. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria dalam keterangan resmi, Sabtu (29/11/2025).
Badan Geologi mencatat bencana di lima kabupaten, Humbang Hasundutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, dipicu tiga faktor utama: curah hujan tinggi hingga ekstrem, kondisi geomorfologi curam hingga sangat curam, serta litologi lapuk yang mudah tererosi.
Lana menekankan pentingnya mitigasi di tingkat tapak, mulai dari identifikasi tanda awal longsor, penyediaan jalur evakuasi, hingga revitalisasi vegetasi lereng. Langkah struktural seperti pengendalian tata guna lahan dan perbaikan drainase juga dinilai krusial untuk menekan risiko pada kawasan permukiman.
Baca Juga: Kementerian ESDM Percepat Pemulihan Listrik dan BBM Pasca Banjir Aceh-Sumut-Sumbar
Terkait kejadian longsor di Sumatra Utara, Lana menjelaskan bahwa lokasi terdampak berada di area perbukitan curam di sekitar Kota Sibolga. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, Sibolga termasuk dalam potensi gerakan tanah menengah-tinggi, sehingga rawan mengalami kejadian serupa.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyampaikan, cuaca ekstrem yang melanda Aceh dan Sumatra dipengaruhi perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B yang terdeteksi sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka. Bibit siklon ini meningkatkan intensitas hujan lebat hingga ekstrem serta angin kencang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan sekitarnya.
"Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem akibat dampak dari Bibit Siklon 95B. Saat ini BMKG terus memantau intensitas 95B dan meminta stakeholder terkait untuk memastikan langkah mitigasi demi meminimalisir hal yang tidak diinginkan," tuturnya.
Selain 95B, BMKG juga mendeteksi Meso Siklon Konvektif Kompleks (Mesoscale Convective Complex/MCC) di Samudra Hindia barat Sumatra. Sistem badai berskala besar ini berpotensi memicu hujan sangat lebat, angin kencang, hingga hujan es, terutama di wilayah Mandailing Natal, Sumatra Utara, dan sebagian besar Sumatra Barat.
Baca Juga: Siagakan Awak Mobil Tangki, Elnusa Upayakan Pasokan BBM di Kawasan Banjir Sumatera
Selanjutnya: Spatial Infra ConEx Resmi Diluncurkan, Menuju Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan
Menarik Dibaca: Resep Donat Mochi Super Chewy dan Lumer yang Anti Gagal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













