Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja dinilai memegang peran strategis dalam memperkuat daya saing manufaktur nasional. Pasalnya, baja menjadi bahan dasar bagi berbagai sektor industri, mulai dari konstruksi, otomotif, alat berat, mesin dan peralatan, energi hingga infrastruktur.
Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, penguatan industri baja perlu menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional.
Menurut dia, industri baja tidak semata-mata dipandang sebagai industri komoditas. Lebih dari itu, industri baja merupakan enabler bagi industrialisasi nasional karena semakin kuat industri baja domestik, semakin besar peluang membangun rantai pasok manufaktur yang lebih dalam di dalam negeri.
Baca Juga: Daya Beli Lesu, Mitra Pinasthika (MPMX) Yakin Pasar Mobil Bekas Tumbuh di Semester II
“Yang perlu dilihat bukan hanya seberapa kapasitas dan produksi baja nasional, tetapi juga kemampuan industri dalam negeri untuk memasok kebutuhan nasional secara kompetitif, berkualitas, dan berkelanjutan,” ujar Harry kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Namun, upaya memperkuat daya saing industri baja nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya tekanan dari pasar baja global yang mengalami kelebihan kapasitas produksi.
Kondisi tersebut berpotensi menekan harga sekaligus meningkatkan arus masuk produk baja ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Di dalam negeri, industri baja juga masih menghadapi biaya energi, logistik, bahan baku hingga kepatuhan terhadap regulasi yang relatif tinggi.
Harry menilai peningkatan efisiensi industri perlu berjalan beriringan dengan penciptaan persaingan yang sehat di pasar domestik.
Menurutnya, pemerintah perlu membedakan impor yang memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dengan impor yang justru menekan produksi nasional yang sebenarnya sudah bisa dipenuhi oleh produsen domestik.
“Yang penting adalah memastikan persaingan berlangsung secara fair dan terdapat level playing field bagi produsen domestik maupun impor,” katanya.
Karena itu, IISIA mendorong pemerintah menciptakan pasar baja domestik yang sehat dan kompetitif. Kebutuhan baja nasional, sepanjang kapasitas dan spesifikasinya tersedia, diharapkan dapat semaksimal mungkin dipenuhi oleh industri dalam negeri.
Baca Juga: HMA Mineral Logam Periode II Agustus 2026 Ditetapkan, Harga Nikel hingga Tembaga Naik
Kebijakan tersebut, menurut Harry, bukan berarti menutup keran impor. Namun, impor perlu dilakukan secara proporsional agar tidak mengganggu keberlangsungan industri baja nasional.
Selain itu, pengawasan impor perlu diperkuat melalui early warning system terhadap lonjakan impor, pemantauan harga dan pola perdagangan, serta penggunaan instrumen trade remedies apabila ditemukan praktik perdagangan yang tidak sehat.
Dari sisi biaya, pemerintah juga perlu memperhatikan harga dan ketersediaan energi. Sebagai industri yang energy intensive, biaya energi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing industri baja.
“Selain itu, efisiensi logistik, ketersediaan bahan baku, dan kepastian regulasi juga perlu diperhatikan agar industri nasional mampu bersaing secara berkelanjutan,” ujar Harry.
Di sisi lain, penguatan industri baja juga perlu dibarengi dengan pengembangan sektor hilir. Pemerintah perlu membangun ekosistem yang memungkinkan produsen baja nasional dan industri pengguna berkembang bersama.
Hal itu dapat dilakukan melalui peningkatan penggunaan produk dalam negeri, penguatan standardisasi, serta pengembangan produk baja yang sesuai dengan kebutuhan industri hilir.
Harry menegaskan, kebijakan yang dibutuhkan bukan sekadar proteksi terhadap industri baja nasional. Lebih dari itu, industri baja harus mampu menjadi industri yang kompetitif, produktif dan inovatif sekaligus menjadi pemasok utama bagi sektor manufaktur nasional.
Dengan pasar yang sehat, struktur biaya yang kompetitif, serta rantai pasok hulu-hilir yang kuat, industri baja dinilai dapat berperan lebih besar dalam memperdalam struktur manufaktur dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Ini Daftar Harga Batubara Acuan (HBA) pada Periode Kedua Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
