Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar mobil bekas masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat meski penjualan mobil baru mulai menunjukkan peningkatan. Namun, kondisi tersebut belum menyurutkan prospek bisnis mobil bekas hingga akhir tahun.
PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) menilai pasar mobil bekas masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama karena kenaikan harga mobil baru dapat mendorong konsumen beralih ke kendaraan bekas yang dinilai lebih ekonomis.
GM Corporate Communications & Sustainability MPMX Natalia Lusnita mengatakan, kenaikan penjualan mobil baru sejauh ini belum sepenuhnya diikuti oleh pasar mobil bekas. Keterbatasan daya beli dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi masih membuat sebagian konsumen menahan keputusan pembelian.
Baca Juga: HMA Mineral Logam Periode II Agustus 2026 Ditetapkan, Harga Nikel hingga Tembaga Naik
"Meski demikian, kami melihat prospek pasar mobil bekas tetap positif. Kenaikan harga mobil baru serta semakin banyaknya model baru yang masuk ke pasar dapat mendorong konsumen mempertimbangkan mobil bekas sebagai pilihan yang lebih ekonomis," kata Natalia kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Dari sisi permintaan, segmen mobil serbaguna atau multi purpose vehicle (MPV) dengan harga di bawah Rp 200 juta masih menjadi salah satu pilihan utama. Beberapa model yang banyak dicari antara lain Toyota Avanza, Toyota Rush, dan Mitsubishi Xpander.
Segmen low cost green car (LCGC) juga masih diminati, khususnya pada rentang harga sekitar Rp 80 juta hingga Rp 120 jutaan. Memasuki pertengahan tahun, LCGC dan MPV keluarga berkonfigurasi tujuh penumpang masih menjadi segmen dengan permintaan tinggi.
Menurut Natalia, ketersediaan suku cadang, kemudahan perawatan, serta efisiensi bahan bakar menjadi sejumlah pertimbangan konsumen dalam memilih mobil bekas. Sementara itu, city car masih memiliki pasar, terutama di kalangan konsumen muda.
Menariknya, minat terhadap mobil hybrid bekas mulai meningkat. Harga yang lebih terjangkau dibandingkan unit baru, ditambah efisiensi bahan bakar, menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan segmen tersebut.
Dari sisi harga, harga mobil bekas secara umum masih relatif stabil. Namun, harga berpotensi menguat apabila harga mobil baru terus mengalami kenaikan.
Baca Juga: Ini Daftar Harga Batubara Acuan (HBA) pada Periode Kedua Agustus 2026
MPMX juga mencatat depresiasi harga mobil bekas pada 2026 cenderung lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat nilai jual kendaraan relatif lebih terjaga. Di sisi lain, keterbatasan stok di showroom turut mendorong pedagang membeli unit dengan harga lebih tinggi.
Untuk segmen bervolume besar seperti LCGC dan MPV, harga dinilai cenderung stabil dengan daya tahan nilai yang cukup baik. Sebaliknya, tekanan harga masih terasa pada sejumlah segmen, terutama kendaraan premium dan sedan.
Memasuki semester II, MPMX melihat prospek pasar mobil bekas masih cukup positif. Kondisi pasar pada kuartal III diperkirakan membaik dibandingkan semester pertama.
“Momentum penjualan selama GIIAS dinilai belum sepenuhnya mendorong pemulihan segmen mobil baru, sehingga peluang bagi pasar mobil bekas masih cukup kuat,” pungkas Natalia.
Sebagai informasi tambahan, MPMX membukukan pertumbuhan laba bersih konsolidasian pada Semester I-2026, meski pendapatan cenderung stagnan.
Berdasarkan laporan keuangan tidak diaudit, MPMX mencatat pendapatan bersih sebesar Rp7,7 triliun pada 6M26, turun tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, perseroan berhasil meningkatkan profitabilitas. Laba kotor naik 6% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp691 miliar, laba usaha tumbuh 25% menjadi Rp366 miliar, dan laba bersih meningkat 23% menjadi Rp336 miliar.
Sejalan dengan itu, margin laba kotor naik menjadi 9,0%, margin laba usaha menjadi 4,7%, dan margin laba bersih meningkat ke level 4,4%.
Dari sisi segmen, bisnis distribusi dan ritel masih menjadi penopang utama. Pendapatan segmen ini relatif stabil di Rp7,3 triliun atau turun tipis 0,4% YoY.
Baca Juga: Target Lifting Minyak Stagnan 610.000 BOPD di RAPBN 2027, IATMI: Tidak Realistis
Pada bisnis distribusi, penjualan sepeda motor MPMulia turun 3% YoY menjadi Rp6 triliun. Namun, pendapatan layanan purna jual meningkat 9% YoY menjadi Rp751 miliar.
Sementara itu, bisnis ritel mencatat pertumbuhan, dengan penjualan sepeda motor naik 6% YoY menjadi Rp1,7 triliun dan layanan purna jual tumbuh lebih dari 9% menjadi Rp51 miliar.
Di tengah pendapatan yang cenderung datar, laba kotor segmen ini tetap meningkat 6% YoY menjadi Rp616 miliar, dengan margin naik dari 7,9% menjadi 8,5%.
Pada segmen asuransi, MPMInsurance mencatat pendapatan sebesar Rp 434 miliar atau turun 10% YoY, terutama akibat penurunan kontribusi dari asuransi kendaraan bermotor.
Meski demikian, biaya jasa asuransi berhasil ditekan 13% YoY menjadi Rp 357 miliar, sehingga hasil jasa asuransi tetap tumbuh 4% YoY menjadi Rp 77 miliar. Adapun hasil investasi turun 31% YoY menjadi Rp 18 miliar.
Di bisnis penyewaan kendaraan, MPMRent mencatat pendapatan Rp 706 miliar atau turun 4% YoY. Penurunan ini dipengaruhi berkurangnya jumlah armada, layanan pengemudi, serta penjualan mobil bekas.
Namun, laba kotor segmen ini justru naik 11% YoY menjadi Rp 163 miliar, dengan margin meningkat menjadi 23,1% dari sebelumnya 19,9%.
Sementara itu, pada segmen pembiayaan, JACCS MPM Finance Indonesia mencatat pendapatan Rp 311 miliar atau turun 43% YoY, seiring strategi bisnis yang lebih selektif.
Meski demikian, beban operasional turun 45% YoY menjadi Rp275 miliar, sehingga rugi bersih berhasil ditekan 58% dari Rp 97 miliar menjadi Rp 41 miliar.
Baca Juga: Kemendag Rekomendasi Platform Lain Replikasi Cara Shopee Berikan Transparansi Biaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
