kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Gapensi Beri Saran Pelaku Industri Terapkan Mitigasi Begini Saat Rupiah Melemah


Kamis, 16 April 2026 / 21:33 WIB
Gapensi Beri Saran Pelaku Industri Terapkan Mitigasi Begini Saat Rupiah Melemah
ILUSTRASI. Pekerja konstruksi beraktifitas pada pembangunan gedung bertingkat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) meminta kepada sejumlah pelaku industri untuk menyiapkan mitigasi taktis, ditengah kondisi melemahnya rupiah dan melejitnya harga bahan bakar minyak (BBM) solar B40.

Wakil Sekjen III BPP Gapensi, Errika Ferdinata mengatakan bahwa sejumlah pelaku industri untuk mendorong klausul eskalasi harga.

Sebab, kata Errika, kebijakan beberapa tahun belakangan khususnya tahun 2022, pelaku industri harus melakukan tindakan yang merujuk pada sejumlah kontrak baru.

"Pastikan ada klausul eskalasi harga jika terjadi lonjakan inflasi material di luar batas wajar (misalnya di atas 5-10%). Sebisa mungkin, hindari kontrak Lump Sum untuk proyek berdurasi lebih dari 6 bulan dan beralihlah ke skema Unit Price," ujar Errika kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Gapensi Soroti Lonjakan Biaya dan Skema Proyek, Kontraktor Nasional Tertekan

Kemudian, Errika menyarankan pelaku industri untuk menunda pembelian bahan material atau mengunci material di awal (Front-Loading).

"Menunda pembelian material sama dengan berspekulasi melawan pergerakan kurs dan harga minyak," kata Errika.

Pelaku industri mesti menegosiasikan uang muka atau DP yang lebih besar di awal proyek. Errika menyebut, industri harus menggunakan dana tersebut untuk langsung memborong dan mengunci harga material dasar (baja, kabel, cat, dan semen) dari supplier pada minggu pertama proyek berjalan.

"Optimalisasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri). Rupiah yang melemah bertindak sebagai beban ekstra bagi material impor," ucap dia.

Baca Juga: Harga Solar Melejit dan Rupiah Melemah, Gapensi: Kenaikan Harga Tak Bisa Dihindari

Errika menilai industri huga mesti melakukan rekayasa nilai (Value Engineering). Tujuannya untuk menawarkan spesifikasi material substitusi buatan lokal kepada klien, terutama untuk komponen arsitektural dan interior. Kemudian, pastikam kualitasnya setara agar durabilitas tidak dikorbankan.

Saran Gapensi selanjutnya adalah melakukan eliminasi waste dengan presisi teknologi. Pasalnya, saat harga material melonjak, margin keuntungan bisa habis hanya karena sisa material terbuang (waste) akibat kesalahan potong atau salah desain.

"Tindakan: Pemanfaatan Building Information Modeling (BIM) dalam alur kerja Design & Build menjadi sangat esensial. Teknologi ini mengkalkulasi Bill of Quantities (BQ) secara akurat dan mendeteksi benturan desain sejak awal, sehingga pemborosan material fisik di lapangan bisa ditekan hingga nyaris nol," tukas Errika.

Baca Juga: Gapensi: Industri Konstruksi RI Masuk Fase Pemulihan Mulai Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×