kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Industri Semen Terdampak Kenaikan Harga Plastik


Selasa, 14 April 2026 / 19:22 WIB
Industri Semen Terdampak Kenaikan Harga Plastik
ILUSTRASI. Industri semen di dalam negeri terimbas dampak dari kenaikan harga plastik. (dok/SIG)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri semen di dalam negeri terimbas dampak dari kenaikan harga plastik. 

Untuk diketahui, kenaikan harga plastik di dalam negeri dipicu tekanan pada bahan bakunya. Pasokan nafta sebagai bahan baku utama tertekan akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak global.

Khusus pada industri semen, plastik digunakan dalam kantong kemasan atau kantong semen. 

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, menyoroti adanya indikasi gangguan pasokan bahan kemasan berbasis plastik yang mulai terasa di pasar.

Baca Juga: Andri Pratiwa Ditunjuk Jadi Presdir Shell Indonesia, Efektif Menjabat 1 Mei 2026

“Kantong semen itu pakai bahan plastik kan, pakai bahan plastik kan sebagian ya, nah itu pasti juga kemungkinan akan mengalami kenaikan. Saya juga ibu rumah tangga, saya sudah mulai melihat, beberapa sudah mulai susah diperoleh di pasar," kata Emmy dalam Halal Bihalal Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) di Jakarta Selasa (14/4/2026).

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan pasokan tidak hanya terjadi di sektor industri, tetapi juga mulai dirasakan oleh masyarakat secara luas. Ketersediaan bahan berbasis plastik menjadi isu yang perlu diantisipasi sejak dini.

Dalam konteks global, kondisi ini bukan hanya dialami Indonesia. Dinamika rantai pasok internasional turut mempengaruhi stabilitas bahan baku di berbagai negara.

“Jadi ya jadi intinya sebetulnya ini tantangan buat kita, untuk bagaimana kita bisa menghadapi semua tantangan ya, karena tidak dihadapi oleh Indonesia saja, ini dihadapi oleh semua negara," ujarnya.

Baca Juga: Pasokan Tersendat, Industri Semen Butuh 14 Juta Ton Batubara Tahun 2026

Di sisi lain, Ketua Umum Asperssi Lilik Unggul Raharjo, menjelaskan bahwa komponen tertentu dalam produksi semen masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, termasuk biji plastik.

“Jadi impor tadi disampaikan yaitu tidak langsung tetapi bahan bakunya dari impor yaitu biji plastik," sebut Lilik.

Ketergantungan ini tidak hanya pada plastik, tetapi juga pada bahan kemasan lain seperti kertas kraft yang digunakan untuk kantong semen. Fluktuasi pasokan dan harga dari negara pemasok menjadi faktor utama yang mempengaruhi biaya produksi.

“Iya pengantongan itu. Kantongnya ada dua, kantongnya satunya kertas kraft, satunya plastik," ujar Lilik.

“Nah, yang kraft ini juga impornya pengaruh ke kelangkaan dan suplai ongkos angkut. Karena sebagian besar kertas kraft ini bisa diproduksi dari Eropa Timur, Rusia, Ukraina, dan sebagainya,” tambahnya.

Selain kemasan, bahan pendukung semen lainnya, seperti gypsum juga masih bergantung pada impor, meskipun sebagian sudah bisa disubstitusi dari sumber alternatif di kawasan Asia.

“Kelangkaan sehingga berpotensi mendorong kenaikan gitu. Itu pengaruh terkait dengan impor," tutupnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×