Reporter: Zendy Pradana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyatakan bahwa kenaikan margin harga tak bisa dihindari jika kondisi pelemahan rupiah berkepanjangan. Bahkan, dampak ini terjadi juga karena melejitnya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi solar.
Sekretaris Jenderal Gapensi, La Ode Safiul Akbar mengatakan bahwa tanpa adanya penyesuaian harga di saat kondisi seperti ini, maka kontraktor berpotensi mengalami kerugian yang signifikan.
"Kami meminta agar proyek yang belum berkontrak diberikan ruang untuk penyesuaian harga agar pelaku usaha tidak menanggung beban biaya yang tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini,” ujar La Ode dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Mobilitas Makin Tinggi, Smartphone Ini Tawarkan Baterai Tahan Lama dengan Fitur AI
Sementara, Wakil Sekjen III BPP Gapensi, Errika Ferdinata mengatakan bahwa dampak pelemahan rupiah juga memberikan tekanan signifikan bagi sektor konstruksi di Indonesia.
Menurutnya, para pelaku usaha mesti menyiapkan sejumlah mitigasi yang segera bisa dijalankan saat ini. Pasalnya, banyak material kunci yang harganya sangat sensitif terhadap fluktuasi dolar.
"Kenaikan harga material (cost overrun) Ini adalah dampak yang paling terasa secara instan," kata Errika.
Dalam hal ini, industri yang paling terdampak akibat melemahnya rupiah ialah industri besi, baja, semen, produk kimia dan industri material yang bersifat finishing.
Dia menyebutkan, tekanan pada kontrak fixed price (lump sum) atau kontraktor yang sedang menjalankan proyek dengan kontrak harga tetap berada dalam posisi paling rentan.
Pasalnya, margin keuntungan juga akan tergerus. Errika menyebut, kenaikan biaya material sebesar 5% saja bisa menghapus seluruh laba bersih proyek jika margin awal hanya di kisaran 10%.
"Risiko Gagal Serah: jika arus kas (cash flow) terganggu oleh lonjakan biaya, ada risiko keterlambatan pengerjaan atau bahkan proyek terhenti di tengah jalan," ucapnya.
Baca Juga: Harga BBM Industri Terkerek, Harga Oli Mesin Truk Naik hingga 35%
Penurunan daya beli masyarakat hingga perlambatan investasi juga menjadi dampak yang besar akibat pelemahan rupiah.
"Gangguan rantai pasok (supply chain). Ketidakpastian ekonomi global seringkali disertai gangguan logistik. Para pemasok material mulai membatasi stok atau melakukan penyesuaian harga dalam hitungan hari, sehingga kontraktor sulit mendapatkan kepastian harga untuk penawaran (RAB) yang sedang diajukan," lanjut Errika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













