kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Gapki: Perselisihan AS dan India beri peluang sawit Indonesia


Senin, 01 Oktober 2018 / 23:09 WIB

Gapki: Perselisihan AS dan India beri peluang sawit Indonesia
ILUSTRASI. PANEN KELAPA SAWIT

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melaporkan pembelian minyak kelapa sawit (CPO) India pada Agustus 2018 merupakan volume tertinggi sepanjang sejarah perdagangan minyak sawit Indonesia dengan India dan disinyalir karena ketahanan antara Amerika Serikat dengan India.

Mukti Sardjono,Direktur Eksekutif Gapki menyampaikan, pembelian CPO dan produk turunannya pada bulan Agustus 2018 paling tinggi dicatatkan oleh India sebesar 823.000 ton, atau meningkat sekitar 26% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ini jadi rekam pembelian tertinggi sepanjang masa perdagangan sawit Indonesia.


"Hal ini karena perselisihan dagang antara India dan Amerika Serikat nampaknya memberikan peluang pada minyak sawit Indonesia untuk memasok minyak nabati pengganti dari minyak kedelai," terang Mukti dalam keterangan resmi, Senin (1/10).

Ingat saja sejak Juni lalu India menaikkan tarif bea masuk impor crude and refined products kedelai, bunga matahari, kacang tanah dan rapeseed masing-masing 35% untuk refined products dan 45% untuk crude grades.

Tapi tak hanya India, peningkatan impor CPO dan produk turunannya juga dibukukan oleh China sebesar 26%, Amerika Serikat 64%, Negara Afrika 19% dan Pakistan 7%.

Namun di sisi lain, Negara Uni Eropa mencatatkan penurunan impor CPO dan produk turunannya sebesar 10% dan diikuti Bangladesh sebesar 62%.

Penurunan permintaan oleh Negara Uni Eropa karena masih tingginya stok minyak rapeseed dan minyak bunga matahari.

Sementara itu Bangladesh mengalami penurunan yang drastis karena pada bulan sebelumnya telah melakukan impor yang tinggi sehingga stok menumpuk.

Sedangkan di sisi produksi, Mukti menyampaikan sepanjang bulan Agustus 2018 produksi diprediksi mencapai 4,06 juta ton atau menurun sekitar 5% dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,28 juta ton.

Penurunan produksi selain karena faktor iklim dan pola produksi bulanan juga kemungkinan disebabkan petani tidak memanen dengan maksimal karena harga yang rendah.

Namun, secara year on year produksi CPO dan PKO dari Januari – Agustus 2018 mencapai 30,67 juta ton atau membukukan kenaikan sebesar 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 25,85 juta ton.

"Demikian juga halnya stok nasional masih cukup tinggi sehingga di beberapa tempat mempengaruhi perdagangan CPO/TBS," katanya.


Reporter: Tane Hadiyantono
Editor: Yudho Winarto

Video Pilihan

Terpopuler

×