kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.542   42,00   0,24%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Gara-gara virus corona, satu proyek pembangkit listrik panas bumi molor


Senin, 30 Maret 2020 / 16:41 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi proyek panas bumi


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

Ketua API Priyandaru Effendi mengatakan, di tengah kondisi saat ini, baik investor maupun PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan turut terdampak.

"Pelemahan rupiah tentu menjadi isu besar karena harga jual listrik dari pembangkit ke PLN dalam bentuk dolar AS, sementara PLN menjual listrik ke masyarakat dalam rupiah," ujar Priyandaru, kepada Kontan.co.id Rabu (25/3).

Priyandaru melanjutkan, kondisi ini berlaku untuk semua jenis pembangkit yang menjual listrik dalam dolar AS.

Baca Juga: Beroperasi sejak tahun 1982, PLTP Kamojang hasilkan produksi listrik hingga 2,4 GWh

Tak hanya itu, jatuhnya harga minyak yang terjadi beberapa waktu lalu dinilai membuat investasi panas bumi sulit untuk diminati dalam jangka pendek.

Priyandaru bilang, pihaknya mengharapkan ada langkah yang dilakukan pemerintah dalam mendorong pengembangan panas bumi. "Pemerintah harus terus membuat pengembangan panas bumi menarik untuk investor. Berikan tarif sesuai keekonomian proyek," kata dia. 




TERBARU

[X]
×