Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespon harga minyak mentah dunia jenis Brent yang sempat melambung ke level US$ 107 per barel.
Fluktuasi harga minyak mentah global tersebut digadang-gadang akan memengaruhi pergerakan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di dalam negeri.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, pergerakan harga minyak dunia saat ini dinilai sangat fluktuatif dan sempat menyentuh angka US$ 109 per barel.
Baca Juga: Festival Padi Petani MAJU 2026: Merajut Sinergi untuk Ketahanan Pangan
Selasa (29/9/2026) pukul 10.45 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 naik US$ 1,49 atau 1,4% menjadi US$ 106,77 per barel.
Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 naik US$ 1,34 atau 1,5% ke US$ 93,94 per barel.
Kedua patokan tersebut ditutup menguat hampir $1 per barel pada sesi sebelumnya.
"Harga minyak dunia, ini kan kemarin US$ 107, ini fluktuatif, itu pernah sampai US$ 109. Jadi ya kita melihat karena sebagian besar energi-energi kita yang untuk crude kita masih impor dari luar, tentu kita harus melihat sumber dalam negeri bagaimana kita meningkatkan," ujarnya usai peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi Ke-81 di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Guna menekan ketergantungan impor di tengah tingginya harga minyak dunia, ESDM tengah mendorong optimalisasi sejumlah lapangan minyak domestik.
Yuliot menuturkan, saat ini terdapat indikasi tambahan produksi berkisar 2.500 hingga 3.000 barel per hari dari lapangan-lapangan tersebut untuk memperkuat pasokan BBM nasional.
"Bahkan dari potensi-potensi dari eksplorasi dan eksploitasi ini ya kita akan genjot pada tahun 2027 dan 2028, sehingga target kita di atas 1 juta barel itu bisa tercapai," terangnya.
Terkait nasib harga BBM di tingkat konsumen, Yuliot memastikan bahwa harga BBM bersubsidi jenis Pertalite tidak akan mengalami kenaikan hingga penutup tahun.
Baca Juga: Alasan Pengelolaan Obesitas Butuh Intervensi Lewat Terapi Medis
"Jadi kalau untuk Pertalite yang disampaikan sama Pak Menteri, sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan, ini tidak ada kenaikan untuk Pertalite, untuk subsidi," katanya.
Meski tarif BBM subsidi dipastikan aman, hal berbeda berlaku bagi jenis BBM non subsidi seperti Pertamax series yang harganya tetap akan mengekor pergerakan pasar.
"Tapi kalau yang non subsidi, ini akan disesuaikan dengan harga pasar. Jadi ini yang kita lihat rata-rata dalam satu bulan kira-kira penyesuaiannya berapa. (Non subsidi bakal ada penyesuaian?) Ya, ada penyesuaian," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














