kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.971   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.014   129,65   2,20%
  • KOMPAS100 783   19,60   2,57%
  • LQ45 593   14,46   2,50%
  • ISSI 208   4,58   2,25%
  • IDX30 336   8,40   2,57%
  • IDXHIDIV20 412   9,48   2,36%
  • IDX80 89   2,21   2,55%
  • IDXV30 111   2,66   2,44%
  • IDXQ30 108   2,82   2,69%

Harga Gas Industri Non-HGBT Melejit, Ini Penjelasan Bahlil


Kamis, 25 Juni 2026 / 12:47 WIB
Harga Gas Industri Non-HGBT Melejit, Ini Penjelasan Bahlil
ILUSTRASI. Menteri ESDM ungkap penyebab harga gas industri non-HGBT melonjak, padahal pasokan nasional aman. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia buka suara terkait lonjakan harga gas industri. Menurutnya, kenaikan ini merujuk pada non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) ​

Bahlil menegaskan bahwa pasokan gas nasional sebenarnya aman, namun kenaikan harga ini dipicu oleh perubahan struktur pasokan ke industri.

"Kalau gas secara keseluruhan stok kita tidak ada masalah, yang ada itu adalah kenaikan harga gas di beberapa industri non HGBT," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Ekspor Lampung Bergeliat, Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Tembus 50.000 TEUs

Bahlil menjelaskan, fluktuasi harga ini tidak terjadi pada seluruh sektor industri, melainkan hanya menyasar konsumen gas non-subsidi. Menurutnya, skema penetapan harga gas di tanah air terbagi menjadi dua kategori yang berbeda peruntukannya. 

"Kan ada dua, ada HGBT yang memang sebenarnya disubsidi oleh negara, kalau non HGBT itu yang harga umum," jelasnya.

Bahlil membeberkan, kenaikan harga pada kategori non-HGBT terjadi karena penurunan produksi sumur gas di wilayah barat Indonesia, sehingga pasokan harus dialihkan menggunakan LNG. Dia bilang, proses distribusi gas alam cair dari wilayah timur ini otomatis mengerek biaya logistik. 

"Sebagian sumur-sumur kita di daerah khususnya Jawa Barat kesini itu lagi penurunan produksi, maka kemudian untuk menutupi itu pakai LNG. Yang namanya LNG itu kan bawa dari Papua, Sulawesi, Kalimantan dan itu ada penambahan cost," terangnya.

Menyikapi beban operasional yang kini harus ditanggung oleh para pelaku industri non-HGBT tersebut, Bahlil memastikan tidak akan tinggal diam melihat situasi ini.

Pemerintah tengah memformulasikan solusi terbaik agar daya saing sektor manufaktur nasional tidak tergerus.

"Nah itu yang kita lagi mencari untuk menengahi agar jangan juga industrinya diberikan beban yang tinggi," katanya.

Baca Juga: Pemerintah Targetkan Pembangunan 5.000 Jembatan Daerah Rampung di Akhir Tahun Ini

Sebagai langkah konkret, Bahlil mengaku telah menggelar koordinasi intensif bersama seluruh pemangku kepentingan serta produsen gas pelat merah guna merumuskan formulasi harga yang tepat. 

"Aku kan sudah rapat sama mereka, sama asosiasi sama buruh, sekarang saya sedang rapat teknis dengan Pertamina untuk mencari angka yang ideal agar industri kita tetap bisa bertahan," pungkasnya.

Untuk diketahui, harga gas industri digadang-gadang melonjak menjadi lebih dari US$ 20 per million metric british thermal unit (MMBTU). Hal ini dikeluhkan oleh pelaku usaha industri hingga terpaksa menurunkan utilitas produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×