kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Harga LNG Turun ke US$ 13, Industri Plastik Minta Pasokan HGBT Lebih Optimal


Senin, 29 Juni 2026 / 15:41 WIB
Harga LNG Turun ke US$ 13, Industri Plastik Minta Pasokan HGBT Lebih Optimal
ILUSTRASI. liquefied natural gas (LNG) (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut positif keputusan pemerintah menurunkan harga gas bumi berbasis liquefied natural gas (LNG) non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi US$ 13 per MMBTU.

Meski demikian, asosiasi menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan biaya energi industri karena realisasi pasokan HGBT masih menjadi tantangan.

Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono mengatakan, penurunan harga LNG merupakan langkah positif untuk merespons aspirasi pelaku industri. Namun, ia berharap realisasi penyaluran HGBT di lapangan dapat ditingkatkan karena selama ini volume yang diterima industri masih di bawah harapan.

Baca Juga: Harga LNG Turun, Industri Ingatkan Realisasi Pasokan HGBT

"Selama ini pengalaman kami, realisasi kuota HGBT yang diterima industri masih di bawah 40%. Mudah-mudahan dengan keputusan terbaru ini pasokan bisa lebih optimal," ujar Fajar kepada Kontan, Senin (29/6/2026).

Menurut Fajar, harga gas hasil regasifikasi LNG sebesar US$ 13 per MMBTU memang masih tergolong tinggi bagi industri. Kendati demikian, kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi stimulus untuk menopang daya saing industri manufaktur, khususnya sektor plastik yang saat ini menghadapi tekanan dari membanjirnya produk impor.

"Angka US$ 13 per MMBTU sebenarnya masih berat, tetapi ini sudah menjadi upaya maksimal pemerintah untuk mengakomodasi kepentingan industri dan penyedia gas. Mudah-mudahan bisa menjadi stimulus untuk memperkuat daya saing industri," katanya.

Ia menambahkan, penurunan harga gas diharapkan dapat membantu meningkatkan utilisasi produksi industri plastik. Namun, perbaikan daya saing tidak cukup hanya mengandalkan harga gas, melainkan juga memerlukan kebijakan lain seperti pengendalian impor dan upaya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar domestik.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga gas bumi hasil regasifikasi LNG untuk industri menjadi US$ 13 per MMBTU, turun dari sekitar US$ 20,57 per MMBTU.

Pemerintah mempertahankan harga HGBT sebesar US$ 6,5 per MMBTU untuk bahan baku dan US$ 7 per MMBTU untuk bahan bakar, sementara harga gas pipa non-HGBT ditetapkan rata-rata US$ 9,6 per MMBTU. 

Baca Juga: TikTok GO Dorong Pertumbuhan Wisata dan Kuliner di Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×