Reporter: Zendy Pradana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor industri di dalam negeri. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri plastik, mengingat ketergantungannya yang tinggi terhadap minyak mentah dan produk turunan petrokimia.
Kenaikan harga minyak global akibat ketidakpastian geopolitik turut mendorong lonjakan biaya bahan baku plastik, khususnya nafta. Kondisi ini memaksa pelaku industri untuk melakukan berbagai langkah mitigasi guna menjaga daya saing dan stabilitas harga di pasar domestik.
Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa industri plastik nasional telah menyiapkan sejumlah strategi agar aktivitas penjualan tetap berjalan di tengah tekanan global.
"Kita sudah berusaha agar harga itu tetap terjangkau. Nah, dari sisi user atau industri hilirnya, kita berharap mereka juga melakukan inovasi-inovasi sehingga produk-produk yang dihasilkan masih bisa terjangkau," ujar Fajar kepada Kontan, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Mandatori B50 yang Berlaku pada Pertengahan 2026 Dukung Target Stop Impor Solar
Salah satu langkah utama yang ditempuh adalah meningkatkan penggunaan bahan baku plastik daur ulang (recycled content). Strategi ini dinilai mampu menekan biaya produksi di tengah mahalnya bahan baku berbasis minyak.
"Ya pertama ya menaikkan penggunaan recycled content. Jadi recycled content-nya dinaikkan. Kalau yang dulu mungkin baru 10-20% ya naikkanlah menjadi 30 sampai 40% sehingga barang jadi plastiknya kalau dikombinasi antara harga virgin dan harga recycled kan akan lebih turun sedikit," kata Fajar.
Selain itu, industri juga didorong untuk mencari substitusi bahan baku plastik konvensional. Inovasi ini mencakup penggunaan material alternatif atau pencampuran plastik dengan bahan pengisi (filler) guna menekan biaya produksi.
"Kemudian juga yang kedua mencari substitusi pengganti plastik atau plastik yang dicampur dengan filler-filler yang lain sehingga bisa menurunkan ongkos produksi dan harga jualnya," ucapnya.
Langkah efisiensi lainnya dilakukan melalui pengurangan ketebalan dan berat bahan plastik, khususnya untuk produk kemasan (packaging), tanpa mengurangi fungsi utamanya. Selain itu, produsen juga mulai beralih dari penggunaan material multilayer menjadi single layer untuk meningkatkan efisiensi biaya.
"Atau mungkin mengecilkan ukurannya atau mengganti material yang dulunya multi-layer multi-material menggunakan menjadi single layer single material sehingga harganya harga per produknya bisa terjangkau oleh end user-nya," kata Fajar.
Baca Juga: Cinema XXI (CNMA) Bagikan Dividen Rp980 Miliar, Ini Keputusan Lengkap RUPST
Tak hanya itu, industri plastik juga mulai menjajaki alternatif pengganti bahan baku utama seperti nafta, yang selama ini menjadi komponen penting namun sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah penggunaan kondensat sebagai substitusi.
"Apa itu alternatif pengganti nafta? Bisa berupa kondensat. Nah, kebetulan kalau kondensat itu di dalam negeri ada beberapa yang bisa digunakan," sebutnya.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Fajar menekankan perlunya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri dalam memetakan potensi serta kesiapan pasokan kondensat di dalam negeri.
"Tinggal nanti kita pemerintah duduk bareng kira-kira kondensat di mana, berapa banyaknya, kualitasnya kayak apa, kita hitung apakah itu bisa disubstitusikan untuk mengganti kebutuhan nafta," beber Fajar.
Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, industri plastik nasional diharapkan mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal sekaligus menjaga stabilitas harga bagi konsumen di tengah gejolak geopolitik global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













