kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.099   75,00   0,44%
  • IDX 6.971   -18,40   -0,26%
  • KOMPAS100 958   -7,36   -0,76%
  • LQ45 702   -6,10   -0,86%
  • ISSI 250   -0,25   -0,10%
  • IDX30 382   -5,99   -1,54%
  • IDXHIDIV20 472   -9,70   -2,02%
  • IDX80 108   -0,78   -0,72%
  • IDXV30 130   -2,34   -1,76%
  • IDXQ30 124   -2,23   -1,77%

Harga Minyak Naik akibat Konflik Timur Tengah, Kendaraan Listrik Kian Dilirik


Selasa, 07 April 2026 / 18:32 WIB
Harga Minyak Naik akibat Konflik Timur Tengah, Kendaraan Listrik Kian Dilirik
ILUSTRASI. Lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik ternyata dorong minat EV. Simak mengapa mobil listrik jadi solusi di tengah ketidakpastian energi. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) dinilai mendapatkan sentimen positif dari lonjakan harga minyak dunia (crude oil) yang dipicu konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pakar otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai konflik berkepanjangan di Selat Hormuz menjadi pengingat serius atas kerentanan ketahanan energi nasional.

Meski pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite tidak akan naik sepanjang 2026, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan tetap menjadi faktor pendorong meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik.

“Masyarakat kini melihat EV sebagai solusi untuk mendapatkan kepastian mobilitas tanpa harus terjebak antrean panjang di SPBU, jika akhirnya distribusi terganggu akibat tensi global,” ungkap Yannes kepada Kontan, Selasa (07/04/2026).

Baca Juga: Bahlil Sebut Uji Coba B50 Berjalan Mulus, Implementasi Mulai 1 Juli 2026

Menurut Yannes, peningkatan permintaan kendaraan listrik, khususnya sepeda motor listrik, tidak semata dipicu oleh kenaikan harga BBM dalam jangka pendek. Lebih dari itu, terdapat pergeseran kesadaran menuju strategi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian energi global.

EV dinilai sebagai aset yang memberikan kemandirian energi pribadi, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi yang membutuhkan kepastian operasional harian tanpa bergantung pada fluktuasi pasokan energi fosil.

“Dibandingkan tahun 2025 yang relatif stabil pertumbuhan sales EV di tahun 2026 diprediksi tetap positif tetapi lebih moderat,” tambahnya.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang mengunci harga Pertalite hingga akhir tahun membuat lonjakan penjualan kendaraan listrik diperkirakan tidak akan terjadi secara eksplosif meski terjadi krisis energi.

“Proyeksi peningkatan sales volume tahunan berada di kisaran 20-30% secara organik,” jelasnya.

Pertumbuhan ini diperkirakan banyak ditopang oleh konsumen kendaraan premium yang menggunakan BBM non-subsidi, di mana harganya mengikuti pasar global yang cenderung tinggi.

“Jadi sales EV tahun ini mengalami konsolidasi yang sehat di mana konsumen beralih ke EV karena efisiensi teknologi dan prestise, bukan sekadar pelarian panik akibat kenaikan harga BBM subsidi di lapangan,” ungkapnya.

Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Dorong Penjualan Motor Listrik, Aismoli Targetkan 100.000 Unit

Insentif Berkurang, Tantangan Baru Industri EV

Meski prospeknya tetap positif, Yannes mengingatkan bahwa dorongan pembelian kendaraan listrik pada 2026 cenderung melemah dibandingkan periode 2024–2025. Hal ini salah satunya disebabkan oleh berakhirnya sejumlah insentif pemerintah pada akhir 2025.

Sebagai informasi, insentif bea masuk 0% untuk impor kendaraan listrik utuh (Completely Built Up/CBU) telah berakhir per 31 Desember 2025. Sementara itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk kendaraan listrik dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 40% masih dalam tahap kajian.

“Ditiadakannya insentif motor listrik sebesar Rp7 juta menjadi tantangan besar apalagi saat harga Pertalite dipastikan tetap Rp10.000 hingga akhir tahun,” ungkap dia.

Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, perubahan harga akibat hilangnya insentif ini dinilai cukup sensitif terhadap keputusan pembelian.

“Tetapi peningkatan sales diprediksi tetap ada meskipun melambat terutama pada segmen pengguna dengan jarak tempuh harian tinggi seperti ojek online atau kurir logistik. Jadi sales motor listrik tahun ini akan mengalami seleksi alam di mana produk yang menawarkan durabilitas baterai dan jaringan servis luas yang akan tetap diminati konsumen,” tambahnya.

Daya Beli Melemah Jadi Risiko

Senada, pengamat otomotif Bebin Djuana menilai konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kenaikan harga minyak, tetapi juga menekan kondisi ekonomi global yang berujung pada melemahnya daya beli masyarakat.

“Kondisi ekonomi dunia sedang tidak baik, akhirnya daya beli domestik lemah, jika perpajakan EV tidak lagi mendapat insentif apakah masyarakat bisa dan mau beralih ke EV? Saya agak ragu,” tambahnya.

Menurut Bebin, keberlanjutan insentif menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik kendaraan listrik sebagai alternatif dari mahalnya BBM, terutama jika konflik di kawasan Timur Tengah terus berlanjut dan berpotensi memicu kelangkaan energi.

Baca Juga: Apindo: Permintaan Mulai Melemah, Dunia Usaha Tahan Ekspansi dan Rekrutmen

“Menurut saya, insentif untuk EV dipakai untuk subsidi BBM, ini yang memberatkan, membuat EV bukan lagi alternatif. Tapi perlu kita lihat perkembangannya kedepan,” ungkapnya.

Penjualan EV Melonjak pada 2025

Sebagai gambaran, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) di Indonesia sepanjang 2025 mengalami lonjakan signifikan.

Total penjualan wholesales mencapai 103.931 unit, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024 yang sebesar 43.188 unit.

Secara tahunan, penjualan BEV pada 2025 melonjak 141% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan dominasi merek asal China, BYD. Sementara itu, total penjualan kendaraan ramah lingkungan, termasuk hybrid, menembus lebih dari 122.000 unit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×