Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia, Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
Meski harga minyak tinggi memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi dan arus kas, kondisi tersebut belum cukup untuk mendorong investasi eksplorasi secara agresif.
Rizal mengatakan perusahaan migas masih berhati-hati dalam mengalokasikan modal untuk eksplorasi lapangan baru. Kegiatan eksplorasi membutuhkan modal besar dengan tingkat ketidakpastian dan risiko kegagalan yang tinggi.
Selain risiko teknis, keputusan investasi juga dipengaruhi ketidakpastian harga minyak. Pergerakan harga komoditas dapat berubah cepat akibat dinamika pasokan dan permintaan global maupun kondisi geopolitik.
Karena itu, perusahaan tidak hanya melihat harga minyak saat ini, tetapi juga prospek harga dalam jangka panjang sebelum memutuskan investasi berskala besar.
Baca Juga: Iran Peringatkan Dunia Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 per Barel
"Kalau harga lagi tidak stabil seperti ini, naik, besok turun lagi, perusahaan akan wait and see," ujar Rizal.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, keputusan investasi di sektor migas tidak semata-mata ditentukan oleh harga minyak spot.
Perusahaan juga mempertimbangkan asumsi harga minyak jangka panjang, kepastian fiskal, serta tingkat pengembalian investasi.
Dengan demikian, harga minyak di atas US$ 100 per barel lebih cepat menjadi insentif untuk mengoptimalkan produksi aset eksisting ketimbang memicu gelombang investasi eksplorasi baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














