CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.597   31,00   0,18%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel, Perusahaan Migas Pilih Genjot Produksi


Jumat, 11 September 2026 / 05:45 WIB
Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel, Perusahaan Migas Pilih Genjot Produksi
ILUSTRASI. Kapasitas produksi SAF di Kilang Cilacap (ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia, Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali menembus US$ 100 per barel. Namun, pesta harga tersebut belum membuat perusahaan hulu migas buru-buru membuka investasi baru.

Alih-alih mengejar eksplorasi berisiko tinggi, perusahaan lebih memilih menggenjot produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.

Merujuk Trading Economics pada Kamis (10/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$ 100 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent telah menembus US$ 105 per barel.

Baca Juga: AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya

Kenaikan harga minyak memang menjadi sentimen positif bagi perusahaan hulu migas karena berpotensi mengerek pendapatan dan arus kas.

Namun, lonjakan harga belum cukup untuk mengubah sikap perusahaan menjadi lebih agresif dalam mengucurkan modal, terutama untuk eksplorasi lapangan baru.

Ketua Bidang Investasi & Kerja Sama Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, perusahaan migas cenderung memanfaatkan periode harga tinggi untuk meningkatkan produksi dari aset eksisting.

Strategi ini memungkinkan perusahaan menikmati kenaikan harga dengan risiko yang lebih terukur.

"Mereka memanfaatkan harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi bukan untuk berinvestasi di area yang berisiko," kata Rizal.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus ke US$ 100 per Barel, Prabowo Minta Purbaya Siapkan Antisipasi

Menurut dia, ketika harga minyak tinggi dan arus kas perusahaan meningkat, dana tersebut memang dapat digunakan untuk mendukung berbagai aksi korporasi. Namun, investasi tetap diarahkan pada kegiatan yang memberikan kepastian pengembalian lebih besar.

Kondisi tersebut tercermin dari strategi sejumlah perusahaan migas nasional.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), misalnya, mencatatkan produksi minyak dan gas sebesar 170 mboepd pada semester I-2026. Angka tersebut meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 143 mboepd.

Chief Financial Officer Medco Energi Internasional Benny Setiawan menilai kombinasi kenaikan harga minyak dan pertumbuhan produksi berpotensi menopang kinerja keuangan perseroan.

"Seiring harga minyak yang membaik di kuartal kedua, serta disiplin biaya yang tetap terjaga, kami cukup percaya diri bahwa hasil keuangan akan lebih baik," kata Benny.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga melihat kenaikan harga minyak sebagai peluang untuk memperkuat pendapatan dan arus kas. Namun, perseroan tetap berfokus pada optimalisasi produksi dan efisiensi operasional.

Head of Investor Relations ENRG Herwin Hidayat mengatakan perseroan akan mengevaluasi peluang peningkatan produksi melalui pengeboran, workover, maupun program optimasi lainnya dengan mempertimbangkan aspek teknis dan keekonomian.

"Dengan harga minyak yang lebih tinggi, kami akan terus mengevaluasi peluang untuk meningkatkan produksi," kata Herwin.

Eksplorasi belum jadi pilihan

Meski harga minyak tinggi memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi dan arus kas, kondisi tersebut belum cukup untuk mendorong investasi eksplorasi secara agresif.

Rizal mengatakan perusahaan migas masih berhati-hati dalam mengalokasikan modal untuk eksplorasi lapangan baru. Kegiatan eksplorasi membutuhkan modal besar dengan tingkat ketidakpastian dan risiko kegagalan yang tinggi.

Selain risiko teknis, keputusan investasi juga dipengaruhi ketidakpastian harga minyak. Pergerakan harga komoditas dapat berubah cepat akibat dinamika pasokan dan permintaan global maupun kondisi geopolitik.

Karena itu, perusahaan tidak hanya melihat harga minyak saat ini, tetapi juga prospek harga dalam jangka panjang sebelum memutuskan investasi berskala besar.

Baca Juga: Iran Peringatkan Dunia Harga Minyak Bisa Tembus US$ 200 per Barel

"Kalau harga lagi tidak stabil seperti ini, naik, besok turun lagi, perusahaan akan wait and see," ujar Rizal.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, keputusan investasi di sektor migas tidak semata-mata ditentukan oleh harga minyak spot.

Perusahaan juga mempertimbangkan asumsi harga minyak jangka panjang, kepastian fiskal, serta tingkat pengembalian investasi.

Dengan demikian, harga minyak di atas US$ 100 per barel lebih cepat menjadi insentif untuk mengoptimalkan produksi aset eksisting ketimbang memicu gelombang investasi eksplorasi baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×