kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.196   -4,00   -0,02%
  • IDX 5.615   273,18   5,11%
  • KOMPAS100 742   43,56   6,24%
  • LQ45 560   32,47   6,16%
  • ISSI 193   8,85   4,79%
  • IDX30 317   18,76   6,29%
  • IDXHIDIV20 393   23,01   6,21%
  • IDX80 84   4,84   6,10%
  • IDXV30 107   4,96   4,84%
  • IDXQ30 102   6,42   6,69%

Harga Pakaian dan Sepatu Impor Berpotensi Naik Mulai Juli 2026


Selasa, 09 Juni 2026 / 10:44 WIB
Harga Pakaian dan Sepatu Impor Berpotensi Naik Mulai Juli 2026
ILUSTRASI. Kelas Menengah Tertekan (KONTAN/Chepoy A. Muchlis)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha ritel dan pusat perbelanjaan mewaspadai potensi kenaikan harga produk fesyen impor, seperti pakaian, tas, dan sepatu, mulai Juli 2026.

Tekanan utama berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan biaya pengadaan barang impor.

Baca Juga: Efek Kurs Rupiah dan Pajak Daerah: Industri Ritel Masuk Fase Low Season Lebih Panjang

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, kenaikan harga belum dilakukan saat ini karena sebagian besar peritel masih mengandalkan stok lama yang dibeli saat kurs rupiah berada pada level yang lebih stabil.

Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah mulai bulan depan ketika persediaan lama mulai menipis dan pelaku usaha harus melakukan pembayaran impor dengan kurs dolar yang lebih tinggi.

"Yang kami khawatirkan adalah pada bulan ketujuh (Juli). Jika dolar masih tinggi dan pembayaran impor sudah jatuh tempo, maka ada potensi kenaikan harga produk ritel," ujar Budihardjo usai konferensi pers peluncuran BINA Holiday & Back to School di Kementerian Perdagangan, Senin (8/6/2026).

Selain tekanan nilai tukar, Budihardjo mengungkapkan harga produk ritel sebenarnya telah mengalami kenaikan dua kali sejak awal tahun. Kondisi tersebut dipicu terbatasnya pasokan barang impor yang menyebabkan stok di pasar menyusut.

Baca Juga: Ciputra Group Sebut Pasar Properti di Cirebon Masih Positif

"Harga sudah naik dua kali sejak Januari karena barang impor sempat sulit masuk. Ketika pasokan terganggu, stok menjadi berkurang," katanya.

Menurut Budihardjo, ketersediaan stok menjadi faktor yang sangat penting bagi industri ritel. Karena itu, Hippindo terus berkoordinasi dengan pemerintah agar para anggotanya yang memiliki merek sendiri tetap memperoleh akses impor guna menjaga kecukupan persediaan barang.

"Kalau diizinkan impor, otomatis kami memiliki stok. Dengan stok yang cukup, pelaku usaha tidak perlu terburu-buru menaikkan harga. Stok itu sangat penting," tegasnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Budihardjo menilai prospek ekspansi sektor ritel di Indonesia masih cukup besar. Ia menilai dinamika pembukaan dan penutupan gerai merupakan bagian dari siklus bisnis yang wajar di industri ritel.

Menurutnya, meskipun ada sejumlah toko yang tutup, banyak pula merek dan gerai baru yang terus bermunculan untuk mengisi peluang pasar.

Baca Juga: ALFI: Biaya Transaksi Logistik Naik 15% Akibat Anjloknya Kurs Rupiah

"Potensi ekspansi ritel di Indonesia masih besar. Memang ada toko yang tutup, tetapi sering kali di lokasi yang sama kemudian muncul gerai baru dengan konsep yang berbeda," ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan perilaku konsumen menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi. Gerai yang tidak melakukan pembaruan konsep berisiko kehilangan pelanggan dan tergeser oleh merek-merek baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sebagai strategi menghadapi tekanan biaya, para peritel juga mulai meningkatkan porsi pembelian dari pemasok lokal, terutama untuk kategori produk pakaian dan alas kaki.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap barang impor sekaligus menekan dampak pelemahan rupiah.

Baca Juga: Emisi Metana Sektor Migas Belum Diatur, Pemerintah Didesak Susun Regulasi

Di samping itu, pelaku usaha terus melakukan negosiasi dengan pengelola pusat perbelanjaan maupun prinsipal di luar negeri untuk menjaga efisiensi biaya dan mempertahankan daya saing harga.

"Saat ini kami harus melihat kondisi pasar. Menaikkan harga tidak bisa dilakukan begitu saja. Karena itu kami terus bernegosiasi dengan pengelola mal dan prinsipal di luar negeri agar bisnis tetap berjalan dan harga bisa tetap terkendali," tutup Budihardjo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×