Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga sejumlah pangan strategis pada minggu ketiga Mei 2026 masih bergerak fluktuatif. Sebagian komoditas mengalami kenaikan, sementara sisanya mulai terkoreksi.
Hanya saja, harga minyak goreng rakyat Minyakita masih bertahan jauh di atas harga eceran tertinggi (HET), menandakan persoalan distribusi belum sepenuhnya teratasi.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia per Minggu (17/5/2026) pukul 09.45 WIB menunjukkan kenaikan terjadi pada beberapa komoditas pangan.
Baca Juga: Kadin dan Asosiasi Pengusaha Tambang Merespons Keluhan Pebisnis China Soal Nikel RI
Harga cabai merah besar naik 5,34% menjadi Rp 55.200 per kilogram (kg), cabai merah keriting meningkat 0,3% menjadi Rp 50.450/kg, sedangkan cabai rawit merah melonjak 9,26% menjadi Rp 71.400/kg.
Kenaikan juga tercatat pada minyak goreng kemasan bermerek I yang naik 1,89% menjadi Rp 24.250/kg dan minyak goreng curah yang menguat 0,24% menjadi Rp 20.700/kg. Beras kualitas bawah II naik 0,69% menjadi Rp 14.650/kg, sementara daging ayam ras segar meningkat 3,32% menjadi Rp 40.400/kg.
Di sisi lain, sejumlah komoditas menunjukkan penurunan harga. Beras kualitas bawah I turun 2,75% menjadi Rp 14.150/kg, sedangkan beras medium I dan II masing-masing turun menjadi Rp 15.850/kg dan Rp 15.550/kg. Harga beras kualitas super I dan II juga melemah ke Rp 16.850/kg dan Rp 16.400/kg.
Harga bawang merah ukuran sedang turun 1,28% menjadi Rp 46.200/kg dan bawang putih ukuran sedang terkoreksi 1,02% menjadi Rp 38.750/kg. Penurunan turut terjadi pada cabai rawit yang turun 2,63% menjadi Rp 48.100/kg, serta daging sapi kualitas I dan II yang masing-masing melemah ke Rp 143.850/kg dan Rp 136.400/kg.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, mengatakan harga komoditas cenderung stabil. Namun, ia menyoroti harga Minyakita di pasar yang berada di kisaran Rp20.000-Rp21.000 per liter atau jauh di atas HET Rp15.700 per liter.
“Minyakita HET Rp15.700, tapi di pasar masih sekitar Rp20.000 sampai Rp21.000 per liter,” ujar Ngadiran kepada Kontan, Minggu (17/5/2026).
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, justru mengatakan untuk cabai rawit merah pasokan dari sentra produksi mulai membaik sehingga tekanan harga berangsur mereda dari sebelumnya, meski faktor cuaca dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sempat menghambat produksi.
Baca Juga: China Kirim Surat Soal Kebijakan Nikel, Ekonom: Struktur Investasi Terkonsentrasi
“Secara prinsip sudah turun banyak. Menjelang puasa sampai Lebaran harga cabai rawit merah sempat di posisi Rp120.000-an per kg di pasar, sekarang sudah turun jauh,” katanya.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, memastikan stok Minyakita secara nasional masih mencukupi di tengah keluhan kelangkaan dan tingginya harga di sejumlah pasar.
Hanya saja, ia mengakui distribusi masih menjadi tantangan utama, terutama untuk wilayah timur Indonesia seperti Papua dan Maluku.
Menurut Budi, pemerintah memperkuat penyaluran melalui BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID FOOD guna mempercepat distribusi ke daerah dengan jaringan distributor yang terbatas.
“Kalau daerah Papua dan Maluku memang masih tinggi. Tapi Bulog sudah siap menyuplai,” ujarnya.
Budi menambahkan Minyakita pada dasarnya bukan produk minyak goreng komersial biasa, melainkan instrumen stabilisasi harga yang digunakan pemerintah untuk menahan lonjakan harga minyak goreng di pasar.
Baca Juga: Tren Wisata Bergeser, Kunjungan Wisatawan RI ke Singapura Capai 2,4 Juta,
Ia menjelaskan, Minyakita berasal dari skema Domestic Market Obligation (DMO) atau kewajiban pasok dalam negeri bagi eksportir minyak goreng karena berasal dari skema tersebut, volume Minyakita di pasar memang tidak sebesar minyak goreng komersial lain.
“Minyakita itu minyak DMO, jadi jumlahnya memang tidak seperti minyak yang lain,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













