kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Harga TBS Sawit Anjlok hingga Rp 1.500 per Kg, Petani Mulai Panik


Minggu, 24 Mei 2026 / 12:30 WIB
Harga TBS Sawit Anjlok hingga Rp 1.500 per Kg, Petani Mulai Panik
ILUSTRASI. Pernyataan Presiden soal ekspor sawit memicu kepanikan, harga TBS sawit anjlok hingga Rp 1.500/kg (ANTARA FOTO/ASWADDY HAMID)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Mansuetus Darto mengungkapkan mulai terjadi gejolak di tingkat petani sawit setelah pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait rencana ekspor sawit melalui pintu negara atau PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Darto, situasi di lapangan memicu kepanikan di kalangan petani sawit swadaya maupun pelaku usaha sawit di daerah akibat ketidakpastian mekanisme perdagangan sawit nasional ke depan.

“Harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok drastis. Sebelum pidato Presiden, harga TBS masih di kisaran Rp 3.000–Rp 3.700 per kilogram. Setelah deklarasi tersebut turun menjadi sekitar Rp 1.500–Rp 2.500 per kilogram,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).

Darto menyebut rata-rata penurunan harga TBS sawit mencapai sekitar Rp 1.500 per kilogram hanya dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut diperburuk dengan banyaknya ramp atau tempat pengumpulan sawit yang memilih menghentikan operasional sementara.

Baca Juga: Petani Sawit: Harga TBS Anjlok Usai Kebijakan Baru Ekspor CPO melalui DSI

Akibat kondisi itu, tengkulak disebut tidak berani membeli sawit dari petani. Selain itu, truk pengangkut berhenti beroperasi, distribusi TBS terganggu, hingga buah sawit mulai menumpuk dan membusuk di area perkebunan.

Menurut Darto, petani swadaya menjadi pihak yang paling terdampak karena sangat bergantung pada hasil penjualan harian untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Ia juga menilai banyak pelaku usaha sawit memilih menahan transaksi karena khawatir terhadap perubahan mekanisme perdagangan serta potensi tambahan margin apabila DSI masuk ke dalam rantai perdagangan sawit nasional.

“Kondisi ini membuat pelaku usaha menekan harga beli TBS di tingkat petani agar risiko mereka lebih kecil,” katanya.

Selain persoalan harga, pelaku industri sawit di daerah juga mempertanyakan kesiapan DSI dalam menjalankan perdagangan sawit global. Sejumlah aspek yang disoroti meliputi jaringan pasar internasional, kesiapan infrastruktur perdagangan, sistem pembayaran, hingga kemampuan menjaga stabilitas harga sawit di tingkat petani.

Darto turut mengingatkan bahwa ratusan pabrik kelapa sawit yang tidak memiliki kebun sendiri berpotensi menghadapi kesulitan menjual crude palm oil (CPO) ke refinery di tengah ketidakjelasan pasar.

Baca Juga: Apkasindo Sebut Pabrik Sawit Tanpa Kebun Kunci Jaga Harga TBS Petani

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, pabrik kelapa sawit dikhawatirkan akan mengurangi pembelian TBS bahkan menghentikan operasional sementara. Situasi ini berpotensi membuat petani sawit swadaya kehilangan akses penjualan hasil panen mereka.

POPSI mencatat produksi rata-rata petani swadaya mencapai sekitar 1.000 kilogram TBS per hektare per bulan, dengan total luas kebun swadaya nasional mencapai sekitar 6,4 juta hektare.

Dengan asumsi tersebut, setiap penurunan harga Rp 100 per kilogram diperkirakan dapat memangkas pendapatan petani swadaya hingga Rp 640 miliar per bulan.

Sementara itu, penurunan harga TBS sawit di lapangan sejak 20 Mei hingga 23 Mei 2026 disebut telah mencapai sekitar Rp 1.500 per kilogram.

“Kami berharap kebijakan besar yang dibuat di pusat juga mempertimbangkan dampak nyata bagi petani kecil di daerah yang menjadi tulang punggung produksi sawit Indonesia,” ujar Darto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×