Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mengkhawatirkan keberlangsungan industri batik nasional. Di tengah makin maraknya peredaran tekstil bermotif batik di pasar domestik. Kondisi ini dinilai bukan hanya menggerus daya saing batik asli, tetapi juga mengancam keberlangsungan para perajin dalam jangka panjang.
Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya mengatakan, perkembangan tekstil bermotif batik dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan tekanan besar, terhadap industri batik yang diproduksi melalui proses pembuatan tradisional.
"Perajin batik itu dalam beberapa tahun ini menghadapi gempuran tekstil batik yang sangat luar biasa. Berdasarkan catatan dan analisa saya sendiri, kalau kita tidak segera membenahi perdagangannya, maka 10 tahun yang akan datang batik kita bisa berakhir, artinya sangat berkurang drastis," ujarnya usai pembukaan Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Percepat Hilirisasi Sawit, Kementan Dorong Teknologi Biodiesel B100
Menurut Komarudin, salah satu persoalan yang sedang dihadapi industri batik adalah masih banyak masyarakat yang belum dapat membedakan batik asli dengan tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal. Kondisi tersebut membuat produk batik hasil karya perajin semakin sulit bersaing di sektor pasar.
Selain itu, APPBI juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk mengenal maupun menekuni kerajinan batik. Menurutnya, tren tersebut berpotensi mengganggu regenerasi perajin apabila tidak segera diantisipasi.
Karena itu, APPBI bersama PT Satu Tujuan Event (SATUE) menggelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026. Sebagai upaya memperkuat promosi batik asli dan sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat, mengenai nilai budaya dan proses pembuatan batik.
Pameran yang berlangsung pada 8-12 Juli 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) tersebut diikuti 168 booth pelaku usaha batik dari berbagai daerah. Penyelenggara menargetkan lebih dari 25.000 pengunjung dengan potensi transaksi mencapai Rp20 miliar.
APPBI berharap dukungan pemerintah terhadap industri batik terus diperkuat, baik melalui penyelenggaraan kegiatan promosi maupun kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan batik sebagai warisan budaya sekaligus sektor ekonomi kreatif nasional.
Baca Juga: Momentum Libur Sekolah Jadi Angin Segar Industri Perhotelan di Destinasi Wisata
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














