Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masih optimistis kinerja keuangan dan operasional tetap solid hingga akhir 2026.
Manajemen HRTA tetap mempertahankan panduan kinerja tahun 2026 dengan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 45%–60% secara tahunan (YoY) dan pertumbuhan laba bersih sebesar 30%–45% YoY.
Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi Thendra Crisnanda mengatakan, kinerja HRTA pada kuartal III2026 diproyeksikan tetap solid, didukung oleh pertumbuhan volume, bisnis bullion, serta permintaan dari pelanggan institusi.
"Kinerja diproyeksikan tetap solid, didukung pertumbuhan volume, bullion business, dan institutional demand. Guidance 2026 masih dipertahankan, yaitu revenue growth 45% - 60% YoY dan net profit growth 30%–45% YoY," ujar Thendra, kepada Kontan.co.id, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Restitusi Rp 800 Miliar Tertahan, Brantas Abipraya Waspadai Penyelesaian Proyek
HRTA mencatat pertumbuhan volume yang masih berada di level double digit. Begitu pun dengan average selling price (ASP) yang terus meningkat mengikuti pergerakan harga emas.
Di sisi lain, permintaan perhiasan mulai menunjukkan pemulihan. Mulai September 2026, HRTA kembali melakukan ekspor produk perhiasan ke Uni Emirat Arab (UEA).
Untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan, HRTA juga terus memperkuat kapasitas produksinya. Perusahaan telah meningkatkan kapasitas produksi dari 48 ton pada 2025 menjadi 60 ton pada 2026.
Baca Juga: Low Tuck Kwong dan Elaine Low Teken Perjanjian Jual Saham BYAN ke Haji Isam
Peningkatan kapasitas ini tidak hanya diarahkan untuk ekspansi kapasitas produksi, tetapi juga untuk meningkatkan utilisasi dan produktivitas.
Sejalan dengan ekspansi tersebut, Hartadinata telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 60 miliar hingga Juni 2026.
"Hingga Juni 2026, realisasi Capex sekitar Rp 60 miliar, terutama untuk peningkatan kapasitas produksi, refinery/manufacturing, fasilitas penyimpanan emas, dan infrastruktur pendukung," jelasnya.
Untuk mendukung pertumbuhan bisnis ke depan, HRTA juga terus memperkuat ekosistem bullion domestik dan hubungan dengan bullion banks serta institutional customers.
Terkait pengakuan dari London Bullion Market Association (LBMA), Thendra menyebut prosesnya hingga kini masih berjalan. Manajemen menargetkan pengiriman sample final emas fisik untuk proses tersebut pada akhir 2026.
Menurutnya, pengakuan LBMA berpotensi memberikan sejumlah manfaat bagi perseroan, mulai dari peningkatan kredibilitas, akses pasar, sourcing, hingga peluang kerja sama dengan pelanggan institusi.
Memasuki 2027, HRTA akan tetap mengelola volatilitas harga emas melalui model cost-plus. Dengan model tersebut, profitabilitas perseroan lebih dipengaruhi oleh volume dan spread per gram dibandingkan pergerakan harga emas semata.
"Ke depan, Hartadinata fokus pada institutional market, bullion banks, ETF ecosystem, domestic sourcing, dan manufacturing capabilities," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














