kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   16.000   0,56%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Hilirisasi Batubara Lamban, IMA: Keekonomian Masih Jadi Kendala


Selasa, 17 September 2024 / 19:12 WIB
Hilirisasi Batubara Lamban, IMA: Keekonomian Masih Jadi Kendala
ILUSTRASI. Pengembangan sejumlah proyek hilirisasi batubara di Indonesia hingga saat ini masih berjalan dengan lamban.


Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pengembangan sejumlah proyek hilirisasi batubara di Indonesia hingga saat ini masih berjalan dengan lamban. 

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengatakan, salah satu kendala yakni dari sisi keekonomian.

"Faktor keekonomian masih jadi kendala utama," ungkap Hendra kepada Kontan, Selasa (17/9).

Umumnya, implementasi hilirisasi batubara mengandalkan teknologi yang diadaptasi dari luar negeri. Untuk itu, pendanaan terhadap proyek hilirisasi batubara pun membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Baca Juga: Hilirisasi Batubara Masih Berlanjut, 6 Perusahaan Masih Melakukan Studi Kelayakan

Industri batubara pun menghadapi tantangan pendanaan seebab sektor perbankan baik di dalam negeri maupun di luar negeri sudah tidak memberikan pendanaan untuk batubara.

Demi mendorong realisasi proyek-proyek hilirisasi batubara, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM pun menawarkan peluang kerjasama kepada investor asal China.

Hendra menilai rencana ini sangat memungkinkan untuk mendorong pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi.

"Kabarnya beberapa perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian (IUPK-KOP) sedang menjajaki peluang kerjasama dan dalam tahapan studi," jelas Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×