Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan realisasi produksi minyak mentah yang siap disalurkan (lifting) sampai dengan Mei 2026. Secara total, lifting minyak nasional tercatat sebesar 576.200 barel per hari atau Barrel of Oil Per Day (BOPD).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa jumlah tersebut terdiri dari produksi minyak sebanyak 491.300 BOPD, kondesat sebesar 55.800 BOPD dan Natural Gas Liquids (NGL) sebanyak 29.100 BOPD. Secara total, realisasi produksi hingga Mei masih berada di bawah target tahun 2026, yakni sebesar 610.000 BOPD.
SKK Migas mencatat dalam lima bulan terakhir, volume produksi terendah terjadi pada bulan Januari 2026. Produksi minyak, kondensat dan NGL pada awal tahun hanya menyentuh 528.099 BOPD.
Produksi meningkat selama dua bulan berikutnya, yakni 590.315 pada Februari dan 599.422 pada Maret 2026. Produksi kembali melandai ke level 586.665 BOPD pada bulan April dan 577.874 BOPD pada Mei 2026.
Baca Juga: Kejar Target Produksi, SKK Migas Optimalkan Teknologi MSF di WK Rokan
Djoko mengungkapkan, fluktuasi tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain kebocoran pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang menyebabkan gangguan produksi pada awal tahun 2026. Kebocoran pipa TGI berdampak terhadap operasional tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan dua KKKS supplier gas.
"Setelah teratasi, (produksi) kembali naik. Namun setelah itu ada masalah kelistrikan di PHR (Pertamina Hulu Rokan) dan dilanjutkan penurunan produksi di Banyu Urip, dimana dua blok migas ini merupakan penopang terbesar produksi nasional," ungkap Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).
Djoko juga mengungkapkan bahwa ada sejumlah KKKS yang realisasi produksinya masih di bawah target. Hal ini karena ada kegiatan pemeliharaan (maintenance) yang dilakukan oleh KKKS pada kuartal pertama dan kuartal kedua.
SKK Migas menyiapkan sejumlah strategi untuk bisa mencapai target produksi 610.000 BOPD, antara lain melalui Triple 100 dan Filling The Gap (FTG). Melalui strategi ini, SKK Migas menargetkan tambahan produksi sebesar 5.000 BOPD, yang saat ini baru terealisasi 199 BOPD. "Masih ada waktu untuk mencapai Filling The Gap ini," imbuh Djoko.
Selain itu, SKK Migas akan mengoptimalkan implementasi dari Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 14 Tahun 2025 terkait pengelolaan produksi minyak dari sumur minyak masyarakat.
Baca Juga: SKK Migas Ungkap Lima Proyek LPG, Dua Pabrik Kapasitas 193 Ton Beroperasi Bulan Ini
Saat ini, sudah ada sembilan koperasi / Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terlibat dalam program ini. Hingga Mei, realisasi produksinya baru sebesar 1.500 BOPD. SKK Migas memproyeksikan potensi produksi dari sumur minyak masyarakat bisa mencapai 20.000 BOPD.
Dari sisi harga rata-rata, Djoko mengungkapkan bahwa realisasi Indonesian Crude Price (ICP) sampai bulan Mei sebesar US$ 86 per barel, atau masih dalam rentang target untuk tahun 2026. Menurut Djoko, rata-rata ICP yang masih di bawah US$ 100 per barel menjadi salah satu faktor Pemerintah mampu menahan harga Pertalite dan Solar subsidi.
Sementara untuk produksi gas, SKK Migas mencatat realisasi hingga Mei 2026 mencapai produksi 6.550 million standard cubic feet per day (mmscfd) dan 5.207 mmscfd untuk salur gas. Realisasi lifting gas juga masih berada di bawah target 2026 yakni produksi gas sebanyak 6.787 mmscfd dan salur gas sebesar 5.400 mmscfd.
Djoko optimisis realisasi produksi akan bisa mencapai target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "(Produksi) gas alhamdulillah mencapai rata-rata 95% dari target APBN. Ke depan, akan terus meningkat mencapai target," ungkap Djoko.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Naik, Bos SKK Migas: Dampaknya Positif ke Hulu Migas
Target Lifting Migas Tahun 2027
Di sisi lain, SKK Migas juga sudah merancang target lifting minyak dan gas untuk tahun 2027. Pemerintah meningkatkan rentang target lifting untuk tahun depan.
Djoko membeberkan, target lifting minyak bumi naik dari 602.000 - 610.000 BOPD pada 2026 menjadi 602.000 - 615.000 BOPD pada 2027. Lifting gas bumi naik dari 929.000 - 933.000 Barrels of Oil Equivalent per Day (BOEPD) pada 2026 menjadi 934.000 - 977.000 BOEPD pada 2027.
Sedangkan ICP diproyeksikan turun dari US$ 86 per barel menjadi US$ 80 per barel. Djoko mengatakan, SKK Migas optimistis bisa mencapai titik tengah dari rentang target lifting minyak tahun 2027, yakni sebesar 612,5 BOPD.
SKK Migas juga sudah merancang strategi untuk mendongkrak lifting gas dari 5.400 mmscfd menjadi 5.469 mmscfd. Sementara itu, Pemerintah juga menaikkan rentang target cost recovery dari US$ 8,5 miliar - US$ 9,9 miliar pada tahun ini menjadi US$ 10,1 miliar - US$ 11,5 miliar pada tahun depan.
Djoko mengatakan bahwa ruang yang lebih lebar bagi cost recovery bertujuan untuk mendukung pencapaian target lifting pada tahun 2027. "Dukungan ruang yang lebih besar terhadap cost recovery pada tahun 2027 untuk dapat membantu dalam hal pencapaian target (lifting)," tandas Djoko.
Baca Juga: Optimalisasi Sumur Banyu Urip Tambah Produksi ExxonMobil 7.500 Barel per Hari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












