kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

ICP Desember 2021 Turun Jadi US$ 73,36 Per Barel


Minggu, 09 Januari 2022 / 17:58 WIB
ICP Desember 2021 Turun Jadi US$ 73,36 Per Barel
ILUSTRASI. Kilang minyak mentah


Reporter: Filemon Agung | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rata-rata minyak mentah Indonesia atau ICP pada Desember 2021 turun menjadi US$ 73,36 per barel. Jumlah ini turun sebesar US$ 6,77 per barel dari rata-rata November 2021 yang mencapai US$ 80,13 per barel.

ICP SLC juga mengalami penurunan  sebesar US$ 7,12 per bulan dari US$ 80,15 per barel dari  bulan sebelumnya menjadi US$ 73,03 per barel.

Dikutip  dari Executive Summary Tim Harga Minyak Mentah Indonesia, penurunan ini antara lain dipengaruhi oleh pelaku pasar yang menanggapi secara overreacted  atas ketidakpastian kondisi pasar seiring peningkatan kasus Covid-19.

Terlebih dengan munculnya varian Omicron, inflasi, pelepasan cadangan strategis dan berlanjutnya peningkatan produksi OPEC+ serta penguatan nilai tukar Dollar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya menyebabkan turunnya minat investor pada komoditas minyak hingga level terendah dalam beberapa tahun dan mendorong aksi profit taking di saat harga masih tinggi.

Baca Juga: Ditutup Melemah, Harga Minyak Mentah Masih Menguat 5% di Pekan Pertama 2022

Faktor lainnya adalah munculnya varian virus Covid-19 baru, Omicron,  yang menyebar dengan cepat pada awal Desember 2021 dan penetapan WHO atas varian virus Covid-19 Omicron sebagai varian of concern di beberapa kawasan seperti Afrika Selatan, Eropa, Amerika, dan Asia, menyebabkan negara-negara di Eropa seperti Inggris, Norwegia, Jerman, Italia, Australia, Denmark dan China memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan aktifitas. 

“Hal tersebut menyebabkan kekhawatiran terjadinya penurunan aktivitas ekonomi dan penurunan permintaan minyak mentah global serta ekspektasi pasar agar OPEC+ menunda keputusan untuk tetap melanjutkan peningkatan produksi minyak,” demikian dikutip Exsum tersebut, Minggu (9/1).

Adapun, mengenai pasokan atau produksi dan stok minyak, Energy Information Administration (EIA) melaporkan terjadinya kenaikan stok gasoline sebesar 7,3 juta barel menjadi 222,7 juta barel dibandingkan stok bulan November 2021, seiring menurunnya permintaan secara musiman yang diperkuat dengan pengetatan aktivitas akibat sebaran varian virus Omicron.

Selain itu, International Energy Agency (IEA) dalam laporan Desember 2021 menyatakan,  pasokan minyak mentah global melebihi permintaan terutama akibat peningkatan produksi AS seiring peningkatan aktivitas pengeboran dan peningkatan produksi OPEC+ sebesar 450.000 barel per hari.

Sementara itu, dari sisi permintaan minyak, merujuk pada laporan IEA menyebutkan, rata-rata permintaan minyak mentah global tahun 2021 mengalami penurunan sebesar 100.000 barel per hari dibanding laporan bulan sebelumnya akibat peningkatan kasus Covid-19 yang berdampak terutama pada penurunan aktivitas penerbangan dan konsumsi bahan bakar jet.

Adapun, OPEC melaporkan permintaan minyak pada kuartal 4 tahun 2021 disesuaikan sedikit lebih rendah terutama untuk memperhitungkan langkah-langkah penahanan Covid-19 di Eropa dan potensi dampaknya terhadap permintaan bahan bakar transportasi, serta munculnya varian Covid-19 baru (Omicron). Total permintaan minyak dunia sebesar 96,63 juta barel per hari secara tahunan pada tahun 2021.

Baca Juga: WTI Tembus ke US$ 80 per barel dan Berada di Jalur Penguatan Tertinggi Sejak November

Penurunan harga minyak mentah internasional juga dipengaruhi oleh Bank of England mengumumkan kenaikan suku bunga yang tidak terduga (keputusan ini menjadi yang pertama di antara negara-negara maju kelompok G7 yang melakukan pengetatan moneter sejak pandemi Covid-19) setelah Federal Reserve AS  mengindikasikan potensi percepatan pengurangan stimulus fiskal dan menaikkan suku bunga lebih awal,  untuk mengatasi inflasi.

 Indikasi tersebut membuat Dollar AS lebih menarik bagi investor dibandingkan dengan pasar ekuitas. “Rystad Energy memperkirakan throughput kilang global pada kuartal 4 tahun 2021 direvisi turun 400.000 barel per hari  dibanding laporan bulan November 2021 menjadi rata-rata 78,7 juta barel per hari,” menurut Exsum Tim Harga Minyak Mentah Indonesia.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh terus berlanjutnya ekspektasi akan pelepasan cadangan minyak strategis China, penurunan pertumbuhan perekonomian di wilayah Asia Pasifik, terutama di China dan India, serta penurunan impor minyak mentah di China dan Jepang.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Desember 2021 dibandingkan bulan November 2021 sebagai berikut:

-Dated Brent turun sebesar US$ 7,34 per barel dari US$ 81,44 per barel menjadi US$ 74,10 per barel.

-WTI (Nymex) turun sebesar US$ 6,96 per barel dari US$ 78,65 per barel  menjadi US$ 71,69 per barel.

-Basket OPEC turun sebesar US$ 6,88 per barel dari US$ 80,37 per barel menjadi US$ 73,49 per barel.

-Brent (ICE) turun sebesar US$ 6,05 per barel dari US$ 80,85 per barel menjadi US$ 74,80 per barel. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×