kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.993   69,00   0,38%
  • IDX 6.177   -65,25   -1,05%
  • KOMPAS100 804   -8,39   -1,03%
  • LQ45 616   -5,42   -0,87%
  • ISSI 213   -1,96   -0,91%
  • IDX30 341   -2,94   -0,85%
  • IDXHIDIV20 428   -1,00   -0,23%
  • IDX80 92   -0,96   -1,04%
  • IDXV30 116   -0,37   -0,32%
  • IDXQ30 110   -0,50   -0,45%

idEA: Pertumbuhan E-Commerce Indonesia Mulai Bergeser ke Kualitas


Senin, 28 September 2026 / 12:33 WIB
idEA: Pertumbuhan E-Commerce Indonesia Mulai Bergeser ke Kualitas
ILUSTRASI. ilustrasi belanja online (KONTAN/Muradi)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri e-commerce Indonesia masih menunjukkan tren positif sepanjang semester I-2026.

Namun, pertumbuhan industri mulai mengalami pergeseran, dari yang sebelumnya berorientasi pada peningkatan transaksi menjadi pertumbuhan yang lebih berkualitas.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan mengatakan, pelaku industri kini semakin memperhatikan efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis.

Baca Juga: Pemerintah Mendorong Industri Telekomunikasi dan Digital Memperluas Konektivitas

“Pertumbuhan industri kini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan transaksi, tetapi mulai bergeser pada kualitas pertumbuhan, efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Senin (28/9/2026).

Menurut Budi, aktivitas masyarakat di kanal digital juga masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari perkembangan transaksi pembayaran digital yang terus tumbuh.

Berdasarkan data Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Juli 2026 mencapai sekitar 5,50 miliar transaksi, atau tumbuh 28,69% secara tahunan.

“Ini menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat menggunakan layanan digital, termasuk untuk transaksi dan belanja, masih terus berkembang,” kata Budi.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang turut menopang kinerja e-commerce sepanjang semester I-2026.

Faktor tersebut antara lain daya beli masyarakat, kampanye Ramadan dan Lebaran, momentum tanggal kembar, perluasan penggunaan pembayaran digital, efisiensi logistik, serta semakin banyaknya pelaku usaha yang memanfaatkan kanal digital.

Di sisi lain, industri e-commerce masih menghadapi sejumlah tantangan. Budi menyebut dinamika regulasi, biaya kepatuhan, persaingan yang semakin ketat, serta tuntutan membangun model bisnis yang lebih sehat menjadi faktor yang perlu diperhatikan pelaku industri.

“Industri juga sedang menyesuaikan diri dengan dinamika regulasi, biaya kepatuhan, kompetisi yang semakin ketat, dan tuntutan untuk membangun model bisnis yang lebih sehat,” ujarnya.

Baca Juga: PRISM Gandeng BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Bencana di Hotel

Memasuki semester II-2026, idEA masih melihat prospek industri e-commerce Indonesia tetap positif. Momentum tanggal kembar, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), hingga periode belanja akhir tahun diperkirakan menjadi katalis bagi aktivitas perdagangan melalui kanal digital.

Namun, seiring perubahan fokus industri, momentum pertumbuhan tersebut tidak hanya akan diukur dari besarnya transaksi, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha menjaga efisiensi dan membangun bisnis e-commerce yang berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×