kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.933   47,00   0,26%
  • IDX 6.031   -115,44   -1,88%
  • KOMPAS100 775   -16,68   -2,11%
  • LQ45 594   -12,08   -1,99%
  • ISSI 211   -3,62   -1,69%
  • IDX30 330   -5,56   -1,66%
  • IDXHIDIV20 422   -7,90   -1,84%
  • IDX80 89   -1,90   -2,10%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,18%
  • IDXQ30 108   -1,77   -1,61%

Impor CBU Turun 47,8%, Pengamat: Produksi Lokal Jadi Penopang Pasokan Mobil


Kamis, 08 Oktober 2026 / 19:52 WIB
Impor CBU Turun 47,8%, Pengamat: Produksi Lokal Jadi Penopang Pasokan Mobil
ILUSTRASI. Insentif Mobil Listrik (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Impor mobil utuh atau completely built up (CBU) ke Indonesia turun hampir separuh sepanjang Januari-Agustus 2026. Namun, penurunan tersebut dinilai lebih mencerminkan pergeseran sumber pasokan dari impor menuju produksi lokal, bukan semata-mata akibat pelemahan permintaan kendaraan.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), impor mobil CBU sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat 51.321 unit, turun 47,8% dibandingkan dengan 98.232 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai penurunan impor perlu dilihat bersamaan dengan perkembangan penjualan kendaraan domestik.

"Kalau saya melihatnya penurunan impor CBU sebesar 47,8% ini lebih tepat dibaca sebagai perubahan sumber pasokan kendaraan, bukan semata-mata pelemahan permintaan," kata Yannes kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).

Menurut dia, berdasarkan data Gaikindo, penjualan grosir (wholesales) kendaraan pada Januari-Agustus 2026 justru tumbuh sekitar 20,1%, sementara penjualan ritel meningkat 13,9%. Meski demikian, pertumbuhan tersebut turut dipengaruhi oleh basis penjualan 2025 yang relatif rendah.

Baca Juga: Impor Mobil CBU Anjlok 47,8%, Produksi Lokal Makin Menguat?

Yannes melihat salah satu perubahan penting terjadi pada sejumlah produsen kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang sebelumnya mengandalkan pasokan CBU. Sejumlah produsen tersebut mulai merealisasikan komitmen produksi kendaraan di Indonesia.

"Sejumlah produsen yang sebelumnya memasok BEV melalui impor CBU mulai merealisasikan komitmen produksi lokal," ujarnya.

BYD menjadi salah satu contoh. Produksi lokal BYD dilaporkan mencapai sekitar 24.877 unit sepanjang April-Agustus 2026. Menurut Yannes, perkembangan tersebut menunjukkan mulai bergesernya sumber pasokan kendaraan untuk pasar domestik.

Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan impor CBU tidak serta-merta berarti seluruh volume impor telah digantikan oleh produksi lokal.

"Masalahnya tidak sesederhana impor turun lalu seluruhnya digantikan produksi lokal. Karena stok, pilihan model, dan strategi masing-masing APM juga berpengaruh," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Yannes menilai penurunan impor CBU menjadi sinyal positif bagi pengembangan basis produksi kendaraan di dalam negeri. Meski demikian, pemerintah perlu memastikan peningkatan produksi tersebut diikuti pendalaman struktur industri.

"Tahap berikutnya perlu dikawal pemerintah agar benar-benar terjadi pendalaman komponen dan rantai pasok lokal," ujar Yannes.

Baca Juga: Kejar Pemenuhan TKDN 60%, Toyota (TMMIN) Masih Kaji Kesiapan

Ke depan, Yannes melihat peluang penurunan impor CBU masih terbuka hingga akhir 2026, terutama apabila kapasitas produksi lokal terus meningkat dan kebijakan pemerintah terkait pengembangan industri otomotif tetap konsisten.

Ia mencontohkan perkembangan produksi BYD yang meningkat cukup cepat sejak mulai berproduksi di Indonesia. Produksi BYD dilaporkan naik dari sekitar 198 unit pada April menjadi sekitar 9.736 unit pada Agustus 2026.

"Artinya, kemampuan memasok pasar dari fasilitas dalam negeri mulai berkembang cukup cepat," katanya.

Meski demikian, Yannes memperkirakan penurunan impor CBU tidak akan berlangsung dengan persentase yang sama setiap bulan. Sebab, masih terdapat kebutuhan untuk mendatangkan model-model baru yang volume penjualannya belum cukup ekonomis untuk diproduksi di dalam negeri.

"Impor CBU juga tetap mempunyai fungsi untuk memperkenalkan produk baru dan menguji respons pasar," ujarnya.

Karena itu, menurut Yannes, indikator keberhasilan kebijakan lokalisasi tidak semata-mata dilihat dari seberapa besar penurunan impor CBU. Hal yang lebih penting adalah memastikan kendaraan yang sebelumnya diimpor dan kemudian terbukti memiliki permintaan pasar dapat semakin banyak diproduksi di Indonesia.

Produksi tersebut, lanjut dia, juga perlu diikuti peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengembangan pemasok lokal yang terukur, serta peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

"Yang paling penting bukan sekadar mengejar penurunan angka impor, tetapi memastikan kendaraan yang sebelumnya diimpor, setelah terbukti pasarnya menunjukkan tren market positif, semakin banyak diproduksi di Indonesia," kata Yannes.

Menurut dia, langkah tersebut akan menentukan seberapa jauh peningkatan produksi lokal dapat mendorong kemandirian industri otomotif nasional.

Baca Juga: Pasar Mobil Januari-September Tumbuh, Penjualan Wholesales Naik 21%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×