Reporter: Zendy Pradana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono berharap tak ada peristiwa pemutusan hubungan kerja (PHK) massal bagi industri plastik ditengah harga plastik yang melonjak.
Harga plastik melonjak akibat perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Perang tersebut diketahui masih berlangsung sampai saat ini sejak akhir bulan Februari 2026 kemarin.
"Kita berharap jangan sampai terjadi PHK massal makanya harus melakukan inovasi-inovasi tadi," ujar Fajar kepada Kontan, Senin (6/4/2026).
Fajar menyebutkan bahwa industri plastik harus memutar otak agar tidak terjadi PHK massal disaat harga plastik melonjak jauh.
Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Geopolitik Timur Tengah, Ini Strategi Mitigasinya
"Tapi yang menjadi perhatian sekarang karena memang dari sisi kurs rupiahnya yang memang sudah tinggi. Sehingga dengan duit yang ada otomatis akan mendapatkan volume atau jumlah barang yang lebih sedikit," sebutnya.
Selanjutnya, Fajar mengatakan bahwa industri plastik harus melakukan mitigasi. Mitigasi itu, berupa mencampurkan bahan baku plastik harus dilakukan setiap industri plastik, tanpa mengurangi penggunaan bahan plastik tersebut.
"Yang biasanya menggunakan virgin material ya sekarang mulailah menggunakan campuran recycled material. Kemudian yang kedua melakukan inovasi-inovasi mencampur plastik dengan filler-filler yang bisa menurunkan ongkos produksi atau harga jual," kata Fajar.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Harga Barang di Pasar Berpotensi Melonjak
Langkah lainnya yang harus dilakukan industri plastik adalah menjual produk dengan mengurangi ketebalan.
"Kemudian yang ketiga menjual produk-produk atau produk-produk dari plastik yang baru dengan ketebalan atau berat atau ukuran yang lebih ringan tanpa mengurangi fungsi dari plastiknya itu sendiri," kata Fajar.
Inaplas juga berharap pemerintah RI bisa membantu untuk mempertahankan daya beli masyarakat, khususnya untuk golongan menengah kebawah. Tujuannya, agar harga plastik dan produk turunannya masih bisa terjangkau.
"Saya lihat di sini daya beli itu masih relatif belum terlalu tajam turunnya," jelasnya.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Hantam Industri Plastik, Bahan Baku Seret dan Harga Melonjak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













