Sumber: Warta Kota | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan penggunaan perangkat elektronik di berbagai sektor turut memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan limbah elektronik atau electronic waste (e-waste). Di tengah laju digitalisasi yang terus meningkat, volume e-waste bertambah setiap tahun, sementara kapasitas pengelolaan dan daur ulang masih terbatas.
Laporan Global E-waste Monitor 2024 mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton limbah elektronik pada 2022. Menjadikan begeri ini salah satu penyumbang e-waste terbesar di Asia Tenggara. Secara global, timbunan e-waste mencapai 62 juta ton per tahun. Namun sebagian besar belum dikelola atau didaur ulang secara memadai.
Kondisi tersebut mendorong semakin banyak perusahaan memasukkan pengelolaan limbah elektronik ke dalam agenda keberlanjutan. Salah satunya Acer Indonesia melalui program Sayang Bumi. Tahun ini berfokus pada edukasi dan pengumpulan e-waste di lingkungan sekolah.
Pada tahun keenam pelaksanaannya, Acer menggandeng 50 sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Jabodetabek untuk mengumpulkan limbah elektronik sekaligus memberikan edukasi mengenai pengelolaan e-waste. Program yang berlangsung sepanjang Juni hingga November 2026 itu ditargetkan mampu menjangkau ribuan siswa.
Presiden Direktur Acer Indonesia Leny Ng mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.
Baca Juga: Rencana Pengembangan Disetujui, Saka Energi Produksi Migas Ronggolawe 2029
"Selama enam tahun, Sayang Bumi membuktikan, perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten. Tahun ini kami memilih hadir di sekolah. Generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan menentukan seperti apa bumi ini 20 hingga 30 tahun ke depan," ujar Leny, Kamis (11/6).
Melalui program tersebut, Acer menargetkan pengumpulan 5 ton limbah elektronik, meningkat dibanding realisasi tahun lalu yang mencapai lebih dari 3 ton. Titik pengumpulan akan tersedia di 50 sekolah peserta serta sejumlah lokasi tambahan di Jabodetabek yang dibuka secara bertahap.
Dalam pelaksanaan program ini,, Acer menggandeng perusahaan pengelola limbah elektronik EwasteRJ sebagai mitra edukasi dan daur ulang. Perusahaan tersebut bertugas memastikan limbah elektronik yang terkumpul diproses sesuai standar pengelolaan yang aman dan ramah lingkungan.
Founder & CEO EwasteRJ, Rafa Jafar mengatakan, perlu kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi persoalan e-waste yang terus meningkat. "Upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus secara kolektif," kata Rafa.
Menurut Rafa, momentum program ini juga berdekatan dengan langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan memperketat aturan pengelolaan sampah mulai Agustus 2026.
"Ketika kota baru bersiap fokus pada sampah organik dapur, sekolah-sekolah ini sudah mulai mengamankan limbah elektronik yang jauh lebih berisiko bagi lingkungan," tegasnya.
Rafa sendiri sudah bersentuhan terkait isu e-waste ini sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). "Saya melihat sampah elektronik ibu saya hanya ditumpuk di laci karena tidak ada wadah pembuangannya," katanya.
Sejak itu mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliah jurusan hukum di Universitas Gadjah Mada itu tertarik mempelajari hal yang terkait lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













