Reporter: Alya Fathinah | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tim inovator muda PT Petrokimia Gresik Solusi Agroindustri terpilih sebagai Distinguished SDG Innovators 2026 dan akan mewakili Indonesia pada UN Global Compact Leaders Summit di New York, Amerika Serikat, pada September 2026.
Tim tersebut dinilai berhasil menghadirkan solusi inovatif yang tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi diterapkan secara luas di sektor pertanian.
Baca Juga: Limbah Sawit Capai 16 Juta Ton per Tahun, Hilirisasi Bisa Jadi Sumber Bisnis Baru
Penghargaan tersebut diumumkan dalam penutupan SDG Innovation Accelerator for Young Professionals (SDGI) 2026, program yang diikuti 72 inovator dari 18 perusahaan selama enam bulan untuk mengembangkan solusi bisnis yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Tim Petrokimia Gresik mengusung inovasi GladiAgro: Next-Gen Soil Revival, yakni teknologi pemulihan kesehatan tanah melalui pemanfaatan pupuk hayati dan mikroba unggul Petro Gladiator.
Salah satu anggota tim, Verona Amelia, menjelaskan inovasi tersebut berangkat dari persoalan menurunnya kualitas tanah pertanian akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan praktik pembakaran limbah pertanian yang masih banyak dilakukan petani.
Melalui inovasi tersebut, limbah pertanian yang sebelumnya dibakar difermentasi menjadi nutrisi organik cair (NOC) menggunakan Petro Gladiator.
Baca Juga: Pertamina International Shipping (PIS) Raup Laba Rp 10,3 Triliun pada 2025
Selanjutnya, nutrisi tersebut dikembalikan ke lahan sebagai bahan organik untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Menurut Verona, hasil uji tanah yang dilakukan sejak 2016 menunjukkan kandungan karbon organik di berbagai wilayah Indonesia terus menurun.
Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi jenuh, efektivitas pupuk kimia berkurang, dan produktivitas pertanian sulit meningkat.
"Ketika kualitas tanah kembali membaik, penyerapan pupuk menjadi lebih maksimal sehingga hasil pertanian meningkat dan lahan lebih tahan terhadap perubahan iklim," ujar Verona kepada Kontan.co.id, Senin (27/7/2026).
Saat ini, program tersebut telah memiliki lahan percontohan di Malang dan direplikasi di 11 kabupaten. Ke depan, perusahaan menargetkan inovasi itu dapat diterapkan lebih luas untuk meningkatkan kandungan karbon organik tanah secara bertahap.
Baca Juga: BRMS Hingga MDKA Menggali Cuan dari Tambang Bawah Tanah, Begini Progres Proyeknya
Selain menghadirkan produk biologis, perusahaan juga mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama AgrooFertile App.
Aplikasi tersebut memberikan rekomendasi dosis pemupukan berdasarkan hasil uji tanah dan jenis tanaman.
Melalui layanan tersebut, petani juga dapat memperoleh uji tanah gratis untuk mengetahui tingkat pH, kandungan karbon organik, hingga unsur hara NPK dalam waktu sekitar tiga menit.
Verona mengatakan inovasi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, terutama petani berlahan sempit yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan program regenerasi petani melalui edukasi di sekolah, penyusunan buku pengetahuan pertanian, serta pemanfaatan aplikasi digital agar semakin banyak generasi muda tertarik menekuni sektor pertanian.
Baca Juga: Ekspor Toyota Indonesia Naik 10,7% Sepanjang Semester I-2026
Presiden Indonesia Global Compact Network (IGCN), Y.W. Junardy, mengatakan, SDGI bukan sekadar ajang kompetisi inovasi, tetapi juga upaya membangun budaya inovasi di lingkungan perusahaan agar solusi yang dihasilkan dapat diimplementasikan dan memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs.
"Tahun ini, program melibatkan 72 inovator dari 18 perusahaan yang mendapatkan pendampingan mentor serta penilaian dewan juri independen selama enam bulan," ujarnya.
Dari 18 perusahaan peserta, dewan juri menetapkan sembilan tim sebagai Outstanding SDG Innovators 2026, yakni Bakrie Renewable Chemicals, Bank Jago, BIRU, MIND ID, PT Pertamina (Persero), Pertamina Patra Niaga, Pupuk Indonesia, TBS, dan PT Petrokimia Gresik Solusi Agroindustri.
Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek utama, yakni inovasi dan kepemimpinan proses (30%), dampak terhadap SDGs dan masyarakat (25%), relevansi solusi (20%), keberlanjutan program (15%), serta potensi replikasi dan pengembangan solusi (10%).
Salah seorang juri, Indri Pramitaswari Guritno, menegaskan aspek keberlanjutan menjadi faktor penting dalam penilaian karena inovasi tidak cukup berhenti sebagai konsep, tetapi harus dapat diimplementasikan dan memberikan dampak jangka panjang.
Baca Juga: Prospek Investasi Manufaktur Alat Berat Masih Menjanjikan
"Kami mencari solusi yang tidak hanya menarik sebagai sebuah ide, tetapi mampu menjawab tantangan nyata secara berkelanjutan, memberikan dampak yang jelas bagi masyarakat dan lingkungan, serta memiliki potensi untuk terus berkembang," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














