kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Industri baja ingin standardisasi limbah


Kamis, 02 Agustus 2012 / 07:01 WIB
Industri baja ingin standardisasi limbah
ILUSTRASI. Kontan - Kominfo Kilas Kementerian Online


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Markus Sumartomjon

JAKARTA. Ketidakjelasan klasifikasi limbah di Indonesia membuat industri baja tanah air tidak bisa bergerak secara leluasa.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Assosiation (IISIA) Edward Pinem meminta pemerintah melibatkan kalangan industri yang tengah menyusun revisi beleid soal. "Sektor industri baja bisa berperan sebagai penopang pertumbuhan industri non migas," katanya, kepada KONTAN.

Asal tahu saja, industri baja adalah industri yang terpukul dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 18/1999 soal pengolahan bahan berbahaya dan beracun (B3). Adanya aturan tersebut membuat impor besi bekas (scrap) masih tertahan di pelabuhan hingga kini.

Edward mengklaim, lantaran belum adanya standarisasi yang jelas soal limbah, membuat banyak produk sisa dari industri, termasuk baja diklaim sebagai limbah. "Kami ingin produk sisa produksi dari industri baja jangan dulu dicap sebagai limbah. Lebih baik diuji dulu," katanya.

Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan, Logistik, dan Distribusi Natsir Mansyur mendukung langkah yang bakal diambil kalangan industri tersebut. Malah kalau sudah ada standardisasi limbah, industri bisa memanfaatkan produk sisa dari proses produksi. Misalnya produk sisaan berupa asam sulfat bisa dijual ke industri pupuk.

Pemerintah saat ini sedang menyusun revisi peraturan pemerintah soal limbah untuk menggantikan beleid pengolahan limbah. Namun tim penyusun yang dibentuk hanya berisikan elemen pemerintah dan kurang memfasilitasi kebutuhan industri.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengakui aturan limbah di Indonesia berbeda dengan negara lain. Misalnya, dinegara lain masih mentoleransi limbah yang ada di scrap sebesar 2%-3% dari total volume scrap. Di Indonesia, kondisi scrap harus terbebas dari limbah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×