kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Industri Karaginan Butuh Investasi Milaran


Senin, 24 Mei 2010 / 08:32 WIB
Industri Karaginan Butuh Investasi Milaran


Reporter: Asnil Bambani Amri |

JAKARTA. Investasi untuk mengolah rumpu laut menjadi karaginan nyatanya tak murah.

Ang Hoo Thiang, salah satu pengusaha Penyedia Teknologi Pengolahan Karaginan dan Agar menyebutkan, ia sudah memiliki teknologi pengolahan karaginan untuk skala kecil dengan kapasitas produksi terbatas yang hanya bisa memproduksi 500 kg sampai 1 ton karaginan perhari.

“Saat ini kami sedang bangun lagi di Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan juga di kota Solo,” kata Ang Hoo Thiang.
Thiang mencontohkan, untuk alat yang bisa memproduksi 500 kg karaginan perhari, investasi untuk mendirikan pabrik tersebut mencapai Rp 500 juta, dan belum termasuk lahan dan bangunan.

Menurut Thiang, jika ingin memproduksi rumput laut itu lebih besar lagi, maka nilai investasinya juga mesti ditambahkan. “Dengan mesin yang diproduksi ini kami sudah bisa menyesuaikan dengan standar karaginan yang ingin diproduksi bisa menyesuaikan permintaan pasar,” jelas Thiang.

Sekadar gambaran, saat ini Indonesia memiliki 26 perusahaan pengolahan rumput laut yang sudah beroperasi dalam ukuran skala menengah dan besar. Sedangkan, industri karaginan dalam skala kecil atau yang mampu produksi dibawah 1 ton karaginan perhari masih sangat minim investasi. Alasan klasik, pengusaha kesulitan dalam mendapatkan teknologi pengolahan rumput laut tersebut.

Akibat minimnya industri itulah penyebab tingginya eskpor rumput laut secara mentah karena lebih mudah dan tidak berbelit dibandingkan harus diolah menjadi karaginan atau produk lainnya. Padahal jika diekspor dalam bentuk olahan, maka harganya akan semakin tinggi dan akan ada nilai tambah bagi investasi dan juga penambahan pekerjaan di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×