kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Industri kimia hilir keluhkan kekurangan bahan baku


Selasa, 10 September 2019 / 17:00 WIB
Industri kimia hilir keluhkan kekurangan bahan baku
ILUSTRASI. Industri kimia hilir keluhkan kekurangan bahan baku dan mahalnya harga gas

Reporter: Kenia Intan | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kimia hilir mengeluhkan kekurangan bahan baku saat ini. Selain kekurangan bahan baku, yang masih banyak tergantung pada impor, industri kimia hilir juag mengeluhkan harga gas yang mahal sehingga menambah beban perusahaan. 

Direktur Industri Kimia Hilir Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufik Bawazier mengatakan, saat ini, kimia hilir sudah diproduksi hampir 80% dalam negeri. Kendati demikian, bahan bakunya masih banyak dari impor.  

Baca Juga: Di Ujung Tanduk, Industri Tekstil Tak Kompak Soal Safeguard Produk China

Sebagai contoh, bahan baku yang masih impor adalah industri cat sebesar 90%. Importasi dilakukan karena bahan baku cat yakni nafta belum bisa dipenuhi di dalam negeri. Cat memerlukan bahan resin dan formula, padahal  bahan tersebut berasal dari proses pengolahan nafta.

Sementara, memproses nafta memerlukan penguatan dalam negeri dan investasi yang tidak sedikit. 

Lebih lanjut Taufik menjelaskan, Kemenperin akan mengoperasikan kembali  aromatic center di Tuban melalui PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI). 

"Rencananya, aromatic tersebut akan dihidupkan kembali dengan restrukturisasi aset yang ada di Kementerian Keuangan, maupun mengundang investasi-investasi," ujarnya, Selasa (10/9).

Untuk memenuhi bahan baku, industri kimia harus melakukannya secara lebih cerdas dan atraktif agar Indonesia tidak tertinggal dengan negara-negara lain seperti Vietnam.  

Diharapkan, dengan adanya pusat aromatik center ini akan mampu mengurangi impor secara bertahap. Taufik memperkirakan bisa berkurangg  80% hingga 90% sampai lima tahun ke depan.  

Adapun menurut Taufik, selain bahan baku tantangan lain yang dihadapi oleh industri kimia hilir adalah harga gas. Padahal, sesungguhnya industri kimia hilir ini memiliki potensi yang besar. 

Baca Juga: Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) perlu harmonisasi

Taufik mengatakan barang kimia dan barang dari bahan kimia bertumbuh 10,4% sepanjang semester I 2019. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan mencapai -7,82% saja. 

Asal tahu saja, yang termasuk ke dalam barang kimia dan barang dari bahan kimia adalah produk-produk dari industri pelumas, industri pembersih, industri cat, dan industri alat pemadaman api ringan (APAR). Adapun hingga saat ini sektor tersebut berkontribusi Rp 91,7 trilliun, dan menyumbangkan 1,19% terhadap ekonomi nasional. 




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×