Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri komponen otomotif Indonesia menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi kendaraan, perubahan kebutuhan konsumen, serta persaingan dengan produk impor.
President Director PT Astra Otoparts sekaligus Ketua Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Yusak Kristian mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri komponen dalam negeri untuk meningkatkan kapabilitas dan daya saing.
"Industri komponen otomotif Indonesia saat ini berada dalam fase yang cukup dinamis, dengan berbagai perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar, serta persaingan dengan produk impor. Kondisi ini justru menjadi peluang bagi industri lokal untuk terus berkembang dan meningkatkan kapabilitasnya," ujar Yusak dalam Media Briefing Automechanika Jakarta 2026 di Jakarta, Jumat (18/9).
Baca Juga: Freeport Kembali Operasikan Smelter Gresik, Produksi Tembaga Digenjot
Menurut Yusak, salah satu perubahan besar yang tengah dihadapi industri komponen adalah perkembangan kendaraan elektrifikasi. Perubahan teknologi kendaraan tersebut membuka kebutuhan terhadap jenis komponen dan teknologi baru.
Di sisi lain, standar industri dan kebutuhan pasar global yang semakin tinggi turut mendorong produsen komponen domestik untuk meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, serta daya saing.
Yusak menilai penguatan kemampuan industri lokal menjadi penting agar produsen komponen Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok otomotif global.
"Kami melihat industri komponen Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang dan mengambil peran yang semakin kuat dalam global automotive supply chain," katanya.
Perubahan teknologi juga membuat kebutuhan peningkatan keterampilan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam pengembangan industri komponen otomotif.
General Manager Messe Frankfurt Hong Kong Fiona Chiew mengatakan, perkembangan kendaraan listrik membuat pelaku industri perlu menyesuaikan kemampuan teknisi maupun tenaga kerja dengan teknologi kendaraan yang semakin berkembang.
Salah satunya dilakukan melalui agenda Tech & Skills Workshop dalam Automechanika Jakarta 2026. Program tersebut mencakup pelatihan teori dan praktik bagi teknisi, termasuk aspek keselamatan dalam perbaikan kendaraan listrik serta penerapan praktik industri.
Baca Juga: Impor Baja Galvanis China Capai 2,07 Juta Ton, Komite Anti Dumping Mulai Selidiki
Menurut Fiona, perkembangan pasar otomotif Indonesia juga masih berjalan secara beriringan antara kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dan kendaraan listrik (EV). Karena itu, kebutuhan terhadap produk dan layanan untuk kedua jenis kendaraan tersebut masih akan berjalan bersamaan.
"Pelaku industri lokal dapat mulai meletakkan dasar untuk memastikan keberlangsungan bisnis mereka di masa depan seiring dengan mulai berkembangnya pasar," ujar Fiona.
Automechanika Jakarta 2026 akan berlangsung pada 24-27 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2. Pameran perdana Automechanika di Indonesia tersebut diikuti 339 exhibitor dari Indonesia dan mancanegara dengan area pameran mencapai 20.800 meter persegi.
Selain pameran, agenda tersebut juga mencakup forum kolaborasi rantai pasok yang membahas antara lain Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), produksi kendaraan listrik, serta integrasi rantai pasok.
Fiona mengatakan, forum dan kegiatan business matching diharapkan dapat mempertemukan pelaku industri lokal dengan mitra internasional, termasuk pembeli, manufaktur, pemasok, dan pemain industri otomotif lainnya.
Indonesia menjadi negara ke-15 yang menjadi tuan rumah Automechanika. Di kawasan Asia, pameran tersebut sebelumnya telah digelar di Shanghai, China, Kuala Lumpur, Malaysia, dan Ho Chi Minh City, Vietnam.
Baca Juga: Victoria Care (VICI) Jajaki Akuisisi Brand, Secret Garden Jadi Salah Satu Target
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














