kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.543   43,00   0,25%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Industri kreatif nilai peran pemerintah masih minim


Jumat, 15 Oktober 2010 / 17:57 WIB
ILUSTRASI. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un


Reporter: Epung Saepudin | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pengusaha industri kreatif harus bergerilya sendiri untuk meluaskan pasar. Mereka belum melihat peran pemerintah menjadi penghubung dengan pembeli di luar negeri.

Rully C. Rochadi, Managing Director Graphic Images Program Head Animation Digital Studio College, yang juga anggota Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia mengatakan keberpihakan pemerintah belum terlihat benar. Ia bilang, banyak animator lokal yang go international tetapi pemerintah tak pernah tahu.

Salah satu contohnya adalah serial kartun Garfield di televisi Kanada. Menurut Rully, para animator kartun itu harus membuka jaringan sendiri.

Rully mengatakan pemerintah seharusnya mencontoh pemerintah Malaysia yang ikut terlibat langsung dengan memberikan berbagai kemudahan. Salah satu contohnya adalah kartun Upin dan Ipin.

Peran perbankan juga minim. Rully mengatakan, pelaku industri kreatif kesulitan memperoleh fasilitas kredit perbankan. Menurutnya, perbankan masih menilai sektor tersebut tidak memiliki kejelasan lantaran proyek yang dikerjakan per kontrak.

Arif Widhiyasa pemilik Agate Studio membenarkan hal ini. Dia mengatakan, tren industri kreatif semakin baik cuma terganjal masalah permodalan. Dia mengusulkan pemerintah memberikan insetif pembebasan pajak penghasilan seperti yang dilakukan pemerintah Singapura.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×