kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.002   -47,00   -0,28%
  • IDX 7.157   109,13   1,55%
  • KOMPAS100 989   17,26   1,78%
  • LQ45 726   9,92   1,39%
  • ISSI 256   4,49   1,79%
  • IDX30 393   4,40   1,13%
  • IDXHIDIV20 488   0,16   0,03%
  • IDX80 112   1,83   1,67%
  • IDXV30 135   -0,70   -0,52%
  • IDXQ30 128   1,37   1,08%

Industri petrokimia diprediksi tumbuh 5,5% di 2017


Rabu, 28 Desember 2016 / 18:29 WIB


Reporter: Umi Kulsum | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Industri petrokimia diprediksi akan meningkat dan jauh lebih baik dibanding tahun ini. Asosiasi Industri Olefin Aromatik & Plastik Indonesia (INAPLAS) menghitung, tahun ini industri petrokimia tumbuh 5,2% dibanding tahun lalu dengan produksi sebesar 4,8 juta ton per tahun.

Fajar Budiono, Sekjen INAPLAS menyebut, sektor makanan dan minuman yang bertumbuh serta sektor konstruksi yang juga meningkat ikut menyokong pertumbuhan industri petrokimia. “Begitu cukai plastik dicabut, langsung menimbulkan gairah di industri ini, apalagi Kementerian Perindustrian juga di belakang kami yang turut menolak,” katanya kepada KONTAN, Jumat, (23/12).

Menurut prediksi Fajar, tahun depan industri petrokimia akan tumbuh 5,5% dengan produksi sekitar 5 juta ton per tahun. Namun, ada kendala yang cukup meresahkan pelaku industri ini. Salah satunya peraturan daerah Bandung yang belum lama ini melarang penggunaan styrofoam.

“Kami khawatir akan merambat ke daerah lainnya, karena masalah sampah plastik bukan kesalahan barangnya, tapi bagaimana perilaku manusianya,” ujar Fajar.

Namun terlepas dari itu, industri petrokimia juga masih membutuhkan tambahan investasi di Indonesia agar tidak lagi bergantung pada impor. Sebab menurut Fajar, saat ini industri petrokimia masih mengimpor sekitar 50% dari bahan baku yang dibutuhkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×