Reporter: Pamela Sarnia | Editor: Sanny Cicilia
JAKARTA. Penisnis industri petrokimia mulai bersiap memasuki kawasan industri Bintuni, Papua Barat. Beberapa perusahaan petrokimia yang sudah memastikan masuk dan berinvestasi di kawasan industri baru tersebut adalah; PT Ferostaal Indonesia, PT Kaltim Metanol Indonesia, Sojitz, dan LC Chemicals.
Michael Gruss, Komisaris PT Ferrostaal Indonesia menyebut, rencana mereka investasi di Bintuni dilakukan karena adanya ketersediaan bahan baku di lokasi tersebut. “Kami targetkan bisa memulai produksi pada tahun 2020,” kata Michael, Selasa (11/10).
Ferrostaal Indonesia rencananya akan memproduksi metanol di kawasan industri Bintuni. Hanya, Radja Pasaribu, Presiden Direktur PT Ferrostaal Indonesia belum bisa memastikan kapasitas produksi yang dipersiapkan perusahaan ini. “Nanti tergantung dari alokasi gas dari pemerintah,” ujar Radja.
Selain meminta kepastian jumlah pasokan gas di kawasan Bintuni, calon investor yang ingin masuk ke Bintuni berharap agar penurunan harga gas juga berlaku untuk Kawasan Industri Bintuni. Apalagi, sebelumnya pemerintah mewacanakan penurunan harga gas bisa dinikmati industri yang ada di kawasan industri.
Saat ini, harga gas di Teluk Bintuni ditetapkan pada kisaran harga US$9–US$10 per million metric british thermal unit (mmbtu). Selain PT Ferrostaal Indonesia, terdapat pula PT Kaltim Metanol Indonesia yang juga ingin membangun pabrik methanol di Bintuni.
Achmad Sigit Dwiwahjono, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian menjelaskan, PT Kaltim Methanol Indonesia tertarik memproduksi methanol berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan investasi yang direncanakan senilai US$ 900 juta. “Mereka (Kaltim Methanol) ingin berinvestasi karena kawasan Bintuni mendapatkan alokasi gas sebesar 90 mmscfd mulai tahun 2021,” tambah Achmad.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News