Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai prospek industri pulp dan kertas nasional masih positif di tengah ketidakpastian global.
Namun, pelaku usaha diminta tetap waspada terhadap tekanan biaya produksi dan gangguan rantai pasok akibat dinamika geopolitik.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin mengatakan, sektor pulp dan kertas tetap menjadi pilar strategis manufaktur dengan kontribusi sekitar 3,7% terhadap PDB industri pengolahan serta kinerja ekspor yang solid.
Baca Juga: Ekspor Aman, Produk Kertas Indonesia Bebas Safeguard di Filipina
Permintaan global juga cenderung meningkat, didorong tren substitusi plastik ke kemasan berbasis kertas serta pertumbuhan e-commerce dan industri makanan-minuman.
“Namun ketidakpastian global, termasuk konflik Timur Tengah, membuat prospek jangka pendek lebih moderat karena tekanan biaya, gangguan logistik, dan fluktuasi permintaan ekspor mulai terasa,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).
Saleh menjelaskan, konflik geopolitik telah memicu disrupsi rantai pasok global, mulai dari keterlambatan pengiriman bahan baku hingga kenaikan harga input.
Di sisi hulu, ketersediaan bahan kimia, energi, dan bahan pendukung menjadi lebih mahal dan tidak stabil. Sementara di sisi hilir, distribusi ekspor terganggu akibat kenaikan biaya pengiriman dan waktu pengiriman yang lebih panjang.
Selain itu, volatilitas harga energi turut menekan struktur biaya industri yang tergolong padat energi.
Baca Juga: Kabar Duka, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Liana Bratasida Meninggal Dunia
Kenaikan harga energi dan bahan baku global bahkan sempat mendorong harga pulp naik signifikan dalam waktu singkat, sehingga menekan daya saing ekspor dan margin perusahaan.
“Bagi produsen yang tidak memiliki integrasi hulu, tekanan margin menjadi lebih berat. Banyak perusahaan melakukan penyesuaian harga, tetapi ini berisiko menekan permintaan,” jelasnya.
Dari sisi pasar, tekanan produk impor juga masih menjadi tantangan, terutama ketika negara pesaing memiliki biaya energi lebih rendah atau terjadi kelebihan pasokan global.
Dalam kondisi biaya domestik meningkat, produk impor menjadi lebih kompetitif dan berpotensi menggerus pasar dalam negeri.
Menurut Saleh, industri pulp dan kertas juga menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan bahan baku domestik, hambatan non-tarif, tuntutan standar keberlanjutan, serta tekanan transisi menuju industri hijau.
Baca Juga: Ekspor Aman, Produk Kertas Indonesia Bebas Safeguard di Filipina
Untuk menjaga daya saing, Kadin mendorong sejumlah kebijakan prioritas, antara lain insentif biaya produksi seperti subsidi energi dan insentif fiskal, penguatan rantai pasok domestik, serta penguatan kebijakan perdagangan melalui instrumen anti-dumping dan pembukaan pasar ekspor baru.
Selain itu, dukungan terhadap transformasi industri hijau melalui insentif teknologi rendah karbon dan skema pembiayaan hijau juga dinilai krusial, disertai kepastian regulasi dan sinkronisasi kebijakan lintas sektor agar tidak menambah beban biaya pelaku industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













