Reporter: Zendy Pradana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak positif bagi industri pariwisata di Indonesia. Hal itu terlihat meningkatnya jumlah wisatawan asing yang datang ke tanah air untuk liburan.
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Haryadi Sukamdani mengatakan bahwa tren wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia meningkat di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. Namun, dia menyebutkan bahwa kenaikannya masih relatif kecil hingga bulan Mei 2026.
"Mungkin kalau dibandingkan sama tahun lalu ya, mungkin ada sekitar 10% (meningkat). 10% sampai 20% persen apalagi dibanding tahun lalu," ujar Haryadi kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah Tekan Industri Manufaktur, Pertumbuhan Ekonomi RI Berisiko Melambat
Haryadi menjelaskan bahwa wisatawan asing paling banyak datang berkunjung ke wilayah Bali. Berdasarkan data yang diperoleh dari GIPI, wisatawan asing yang datang ke Bali per April 2026 tercatat sudah ada 613.498 orang.
Kemudian kota besar lainnya yang ramai dikunjungi adalah Jakarta, Batam hingga Yogyakarta.
"Tapi itu didominasi memang market tradisional ya, market tradisional seperti kalau kita tuh Australia itu yang paling banyak ke Bali hingga Labuan Bajo," kata dia.
Lebih lanjut, kata Haryadi, wisatawan asing lainnya yang kerap datang ke Indonesia yakni wisatawan dari Malaysia.
"Kalau yang lainnya (wisatawan asing) ya biasa aja. Singapura juga sih tapi kebanyakan cross border ke Batam," ucapnya.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Mulai Tekan Industri Pengolahan, Waspada Berefek ke Ekonomi RI
Dia menjelaskan bahwa kenaikan wisatawan asing saat ini karena masih kurangnya upaya promosi dari pelaku usaha atau industri pariwisata saat ini. Hal itu yang membuat tren kenaikan tidak terlalu signifikan.
Adapun faktor lainnya karena harga tiket pesawat yang mahal akibat kenaikan harga avtur.
"Tapi kalau dia (wisatawan asing) tuh istilahnya berlibur ke Indonesia dia bisa mendapatkan lebih banyak gitu karena mata uang mereka lebih kuat," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













