Reporter: Zendy Pradana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bisa menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia.
Kurs rupiah yang lebih rendah membuat biaya liburan di Indonesia terasa lebih murah bagi wisatawan asing, sehingga berpotensi mendorong kenaikan kunjungan turis mancanegara.
Pengamat sekaligus dosen pariwisata di Universitas Negeri Jakarta, Khrisnamurti mengatakan, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata karena faktor harga masih menjadi pertimbangan utama wisatawan saat menentukan tujuan perjalanan.
"Dalam pariwisata, harga adalah salah satu faktor yang cukup krusial yang bisa memengaruhi keputusan wisatawan," ujar Khrisnamurti kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Justru Beratkan Industri Manufaktur, Biaya Produksi Ikut Melonjak
Menurut dia, wisatawan asing cenderung memilih destinasi yang menawarkan biaya lebih murah. Kondisi itu juga berpotensi membuat turis tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak selama berada di Indonesia.
Khrisnamurti menilai, wisatawan dari negara-negara yang memiliki konektivitas kuat dengan Indonesia masih akan menjadi penyumbang terbesar kunjungan turis asing. Negara tersebut antara lain Malaysia, Australia, dan Singapura.
Wisatawan asal Australia disebut masih menjadikan Bali sebagai destinasi favorit karena sudah identik dengan wisata liburan internasional.
Sementara turis asal Malaysia dinilai semakin tertarik berkunjung ke Jakarta dan Bandung, salah satunya dipengaruhi promosi di media sosial.
"Malaysia dan Singapura kuat karena dekat, mudah diakses, dan banyak perjalanan regional," ujarnya.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Jangka Pendek BI Naik, Risiko Outflow Asing Perlu Diwaspadai
Meski begitu, Khrisnamurti mengingatkan pelemahan rupiah tidak otomatis membawa dampak positif penuh bagi pariwisata.
Wisatawan tetap mempertimbangkan berbagai faktor lain, mulai dari harga tiket pesawat, keamanan, kenyamanan, kebersihan, kualitas layanan hingga citra destinasi wisata.
"Kita perlu hati-hati, karena dampaknya tidak selalu langsung," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Azril Azahari. Ia menilai pelemahan rupiah belum tentu menjadi kabar baik bagi industri pariwisata nasional.
Menurut Azril, mahalnya tiket pesawat akibat kenaikan harga avtur masih menjadi hambatan utama yang dapat menekan minat perjalanan wisata. Selain itu, pola dan perilaku wisatawan global juga telah berubah.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Jangka Pendek BI Meningkat, Waspadai Risiko Outflow Asing
"Paradigma pariwisata dunia sudah bergeser, termasuk perilaku pengunjung atau wisatawan juga ikut berubah," ujar Azril.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













