kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Industri Susu Lokal Tertekan Biaya Pakan dan Tingginya Harga Sapi Impor


Senin, 27 April 2026 / 17:29 WIB
Industri Susu Lokal Tertekan Biaya Pakan dan Tingginya Harga Sapi Impor
ILUSTRASI. Produksi susu sapi kemasan untuk kebutuhan MBG (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) menyorot sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri pengolahan susu (IPS) saat ini. Salah satunya, produksi domestik masih terbatas seiring harga sapi impor yang masih mahal.

Direktur GKSI Yusup Munawar mengatakan, dari sisi hulu, harga sapi impor yang meningkat membuat investasi penambahan populasi menjadi lebih mahal. Di saat yang sama, ketersediaan bibit sapi perah lokal berkualitas juga disebut masih terbatas.

“Ketersediaan lahan untuk peternakan dan hijauan pakan juga semakin terbatas, khususnya di wilayah sentra yang padat penduduk,” jelas Yusup ke Kontan, Minggu (26/4/2026).

Baca Juga: Privy Catat Hampir 13 Juta Dokumen Digital Terverifikasi Sejak Awal 2026

Tak hanya itu, biaya pakan dan operasional juga masih relatif tinggi. Sementara, lanjut Yusup, produktivitas ternak rakyat masih perlu terus ditingkatkan agar lebih efisien dan kompetitif.

Adapun tantangan lainnya ialah regenerasi peternak muda yang masih belum optimal, serta fluktuasi harga susu global yang turut memengaruhi daya saing susu lokal.

Kendati demikian, di balik tantangan tersebut, Yusup menilai peluang sektor persusuan nasional masih besar. Apalagi dengan permintaan susu nasional yang terus meningkat imbas program Makan Bergizi Gratis.

“Pemerintah juga mulai memberi perhatian lebih kuat melalui program Program Peningkatan Susu dan Daging Nasional (P2SDN), yang  dapat menjadi momentum kebangkitan sektor persusuan nasional,” tutur Yusup.

Selain itu, ia menilai dukungan lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya semakin bergerak ke arah yang positif.

Pun, perkembangan teknologi breeding, feeding, dan manajemen peternakan membukakan peluang peningkatan produktivitas.

Baca Juga: Telkom (TLKM) Luncurkan Agentic AI by BigBox, Dorong Otomasi Cerdas untuk Bisnis

“Dengan kondisi tersebut, koperasi memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pusat ekonomi desa berbasis peternakan modern dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×