Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat dinilai akan memberi dampak langsung bagi petani Papua, terutama melalui kemudahan akses pupuk dan peningkatan produktivitas pertanian.
Selama ini, sektor pertanian di Papua masih menghadapi kendala tingginya biaya distribusi pupuk karena harus didatangkan dari luar daerah.
Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan (KEPP) Otonomi Khusus Papua, Gracia Josaphat Jobel Mambrasar atau Billy Mambrasar, mengatakan biaya pengiriman pupuk menjadi salah satu beban terbesar dalam aktivitas pertanian di Papua.
Kehadiran pabrik pupuk di Fakfak diyakini dapat memangkas biaya tersebut sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.
Baca Juga: Arahan Prabowo, Luhut Pimpin Rapat Percepatan Riset untuk Ketahanan Pangan Nasional
“Biaya pengiriman pupuk hampir mencapai lebih dari sepertiga total biaya pertanian, di luar biaya tenaga kerja. Dengan adanya hilirisasi pupuk dan jarak distribusi yang lebih dekat, biaya logistik tentu bisa ditekan,” ujar Billy, dikutip dari Kompas.com, Jumat (23/1/2026).
Sementara itu, Peneliti dan Pengajar Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI), Mohammad Dian Revindo, menegaskan bahwa pupuk merupakan input utama dalam sektor pertanian dan perkebunan.
Karena itu, pembangunan industri pupuk di Papua tidak hanya berdampak pada kelancaran pasokan, tetapi juga memperkuat basis produksi pangan dan komoditas perkebunan di wilayah tersebut.
Ia menilai Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui intensifikasi, bukan perluasan lahan.
Pendekatan ini dinilai penting agar peningkatan produksi dapat dicapai tanpa menambah tekanan terhadap lingkungan, sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga: Mendukung Ketahanan Pangan Nasional, PTPN I Mengembangkan Komoditas Kelapa.
“Pupuk adalah input kunci bagi sektor pertanian dan perkebunan. Industri pupuk di Fakfak berpotensi memperkuat produksi pangan dan komoditas perkebunan di Papua dan Indonesia Timur, sekaligus menciptakan efek pengganda bagi sektor lain seperti transportasi, perdagangan, dan jasa penunjang,” ujar Revindo dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).
Lebih jauh, keberadaan industri pupuk di Papua juga dipandang sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah.
Selama ini, struktur ekonomi Papua masih didominasi sektor ekstraktif yang rentan terhadap fluktuasi harga dan memberikan nilai tambah terbatas bagi perekonomian lokal.
Menurut Revindo, pengembangan industri dan hilirisasi menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Papua yang lebih berkelanjutan, mengingat besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki wilayah tersebut.
Baca Juga: Pupuk Subdisi Disalurkan Sejak Awal Tahun 2026, Simak Cara Beli Pupuk Subsidi
Namun, ia mengingatkan pembangunan kawasan industri di Papua perlu dilakukan secara cermat dengan memperhatikan karakter sosial dan budaya setempat.
Ia menekankan pentingnya perlindungan hak masyarakat adat, prioritas penyerapan serta pelatihan tenaga kerja lokal, dan penerapan standar lingkungan yang ketat dalam seluruh rantai pasok industri pupuk di Papua Barat. Pendekatan ini dinilai krusial agar pembangunan industri tidak menimbulkan ketimpangan baru.
Selanjutnya: Hasil Indonesia Masters 2026: 6 Wakil Indonesia ke Semifinal, Segel 1 Tiket Final
Menarik Dibaca: Hasil Indonesia Masters 2026: 6 Wakil Indonesia ke Semifinal, Segel 1 Tiket Final
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













