kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Infrastruktur jadi tantangan pemanfaatan gas di sektor kelistrikan


Kamis, 02 September 2021 / 15:53 WIB
ILUSTRASI. Jaringan pipa Gresik-Semarang memasok gas untuk PLTG Tambak Lorok milik PLN


Reporter: Filemon Agung | Editor: Tendi Mahadi

Haryadi mengungkapkan, dengan target konversi PLTD ke pembangkit gas sejatinya diharapkan mampu menekan biaya pembangkit PLN serta mengurangi besaran impor BBM. Dalam mencapai upaya tersebut, salah satu fasilitas yang digunakan yakni floating storage regassification unit (FSRU) milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

"Sayangnya karena harga infrastruktur LNG khususnya untuk FSRU atau yang land base itu jatuhnya menjadi mahal karena volume di tiap lokasi kecil maka total listrik ditambah gas itu jatuhnya lebih mahal dari diesel," ungkap Haryadi.

Haryadi menambahkan, PGN pun sampai saat ini belum bisa memenuhi hal tersebut apalagi saat ini harga gas di tingkat midstream atau pada fasilitas FSRU maupun land-based RU masih belum masuk secara keekonomian.

"Ini jadi tantangan mungkin ada insentif agar harga bisa ditekan sehingga harga midstream bisa rendah dan totally harganya untuk gantikan diesel ini lebih murah," pungkas Haryadi.

Selanjutnya: Ini roadmap pengembangan DME dan methanol Kementerian ESDM hingga 2045

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×