CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Industri Ban Bersiap Naikkan Harga Akibat Lonjakan Bahan Baku


Selasa, 19 Mei 2026 / 21:16 WIB
Industri Ban Bersiap Naikkan Harga Akibat Lonjakan Bahan Baku
ILUSTRASI. Industri ban nasional mulai bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri ban nasional mulai bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan bahan baku berbasis fosil. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga ban dalam beberapa waktu ke depan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Azis Pane mengatakan, tekanan terbesar industri saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Karena kita memproduksi ban itu dengan rupiah Rp 17.600 per dolar AS, dengan bahan baku dari fosil akibat perang Timur Tengah yang begitu tinggi,” ujar Azis kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Genjot Ekspor, Multi Bintang (MLBI) Kirim 6 Kontainer BINTANG Radler ke Australia

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku sudah sulit dihindari karena sebagian besar komponen produksi ban masih mengacu pada harga internasional. Bahkan, industri saat ini lebih fokus bertahan ketimbang mengejar ekspansi.

“Seluruh pabrik ban itu survival, bukan mau mencari untung besar. Yang penting jangan sampai PHK,” katanya. 

Azis menjelaskan, produsen ban kini cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga volume produksi. Perusahaan hanya memproduksi sesuai permintaan pasar agar tidak menumpuk stok di tengah ketidakpastian ekonomi dan kurs.

Baca Juga: Gapki hingga GPEI Respons Isu Badan Ekspor: Berpotensi Ganggu Mekanisme Pasar

Ia menambahkan, daya beli masyarakat yang belum pulih juga membuat industri kesulitan melakukan penyesuaian harga secara agresif. Di sisi lain, produsen harus tetap menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku.

“Dengan harga normal dulu saja berat karena daya beli. Tapi sekarang bahan baku mahal dan dolar tinggi,” ungkapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×