kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Industri Ban Bersiap Naikkan Harga Akibat Lonjakan Bahan Baku


Selasa, 19 Mei 2026 / 21:16 WIB
Industri Ban Bersiap Naikkan Harga Akibat Lonjakan Bahan Baku
ILUSTRASI. Industri ban nasional mulai bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi (ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri ban nasional mulai bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan bahan baku berbasis fosil. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga ban dalam beberapa waktu ke depan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Azis Pane mengatakan, tekanan terbesar industri saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Karena kita memproduksi ban itu dengan rupiah Rp 17.600 per dolar AS, dengan bahan baku dari fosil akibat perang Timur Tengah yang begitu tinggi,” ujar Azis kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Genjot Ekspor, Multi Bintang (MLBI) Kirim 6 Kontainer BINTANG Radler ke Australia

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku sudah sulit dihindari karena sebagian besar komponen produksi ban masih mengacu pada harga internasional. Bahkan, industri saat ini lebih fokus bertahan ketimbang mengejar ekspansi.

“Seluruh pabrik ban itu survival, bukan mau mencari untung besar. Yang penting jangan sampai PHK,” katanya. 

Azis menjelaskan, produsen ban kini cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga volume produksi. Perusahaan hanya memproduksi sesuai permintaan pasar agar tidak menumpuk stok di tengah ketidakpastian ekonomi dan kurs.

Baca Juga: Gapki hingga GPEI Respons Isu Badan Ekspor: Berpotensi Ganggu Mekanisme Pasar

Ia menambahkan, daya beli masyarakat yang belum pulih juga membuat industri kesulitan melakukan penyesuaian harga secara agresif. Di sisi lain, produsen harus tetap menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku.

“Dengan harga normal dulu saja berat karena daya beli. Tapi sekarang bahan baku mahal dan dolar tinggi,” ungkapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×