kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.519   19,00   0,11%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Infrastruktur membaik, ekspor ke Singapura turun


Rabu, 26 Juli 2017 / 18:23 WIB


Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Pemerintah semakin giat membangun infrastruktur termasuk pelabuhan membuat ekspor ke Singapura mengalami penurunan. Ini disebabkan oleh berkurangnya ekspor atau transit ke Singapura karena sudah membaiknya infrastruktur perlabuhan salah satunya di Tanjung Priok. Sehingga perusahaan bisa langsung ekspor ke negara tujuan tanpa harus transit di Singapura. 

Kasan Muhri, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan mengatakan, pemerintah tidak merisaukan penurunan ekspor ke Singapura. Pasalnya, ekspor ke negara Asean justru mengalami pertumbuhan yang cukup baik.

"Ke Singapura ekspor kita turun hampir 15% pada satu semester I 2017 dibanding semester I 2016," ujarnya di Jakarta, Rabu (26/7).

Hal ini karena dalam 10 tahun terakhir, peran Singapura di ekspor Indonesia adalah negara transit untuk produk migas. Dengan pengurangan aktivitas ekspor ke Singapura, menandakan infrastruktur pendukung ekspor Indonesia mengalami perbaikan dan bisa melakukan pengiriman langsung.

Apalagi bila infrastruktur pelabuhan di Sumatera selesai, maka akan memberikan keuntungan bagi pemerintah. Sebab potensi melakukan penjualan ekspor non migas seperti emas, timah, nikel dan lainnya masih sangat besar. Selama ini, Singapura berperan melakukan re-ekspor produk tersebut dari Indonesia.

"Kalau nanti pelabuhan di Sumatera dan lainnya diperbesar, maka nanti dibilang lupakan saja Singapura. Kita bisa full direct export, mungkin dalam 5 tahun ke depan Singapura sudah tidak masuk lagi dalam 5 negara importir," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×