kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ini Faktor Pendorong Kenaikan Produksi TBS Austindo Nusantara (ANJT)


Sabtu, 02 Maret 2024 / 15:30 WIB
Ini Faktor Pendorong Kenaikan Produksi TBS Austindo Nusantara (ANJT)
ILUSTRASI. ANJT berhasil mencapai kinerja produksi yang positif dengan peningkatan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 4,8% menjadi 881.051 mt. REUTERS/Lim Huey Teng


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mengumumkan kinerja operasional dan keuangannya untuk tahun buku 2023.

Berdasarkan laporan tersebut, ANJT berhasil mencapai kinerja produksi yang positif dengan peningkatan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 4,8% menjadi 881.051 mt dibandingkan tahun lalu, yaitu sebesar 840.581 mt.

Peningkatan produksi tersebut terutama dikontribusi oleh perkebunan di Pulau Belitung sebesar 254.579 mt, yang didorong oleh produktivitas yang tinggi dari tanaman-tanaman kelapa sawit muda  hasil penanaman kembali (replanting).

Baca Juga: Pengendali Dikabarkan Lepas ANJT, Begini Rekomendasi Sahamnya

Lebih lanjut, perkebunan muda di Papua Barat Daya menghasilkan total produksi TBS sebesar 120.445 mt, meningkat 7,2% dibandingkan produksi TBS pada tahun lalu. Peningkatan produksi ini sejalan dengan tren peningkatan produksi dari tanaman muda yang baru menghasilkan serta perbaikan akses jalan dan infrastruktur.

Dengan peningkatan produksi TBS tersebut mendorong pertumbuhan produksi Crude Palm Oil (CPO) sebesar 2,9% menjadi 283.659 mt. ANJT juga mencatatkan peningkatan produksi Palm Kernel Oil (PKO) sebesar 38,7% menjadi 1.459 mt di tahun 2023, yang berasal dari pabrik pengolahan kami di Papua Barat Daya. 

Sementara itu, produksi Palm Kernel (PK) mengalami penurunan menjadi 52.432 mt pada tahun 2023 yang disebabkan oleh sifat genetik dari kelapa sawit yang baru ditanam menghasilkan inti sawit atau PK yang lebih kecil.

Nopri Pitoy, Direktur Keuangan ANJ menjelaskan bahwa seiring pertumbuhan produksi TBS dan CPO yang positif, ANJ berhasil mencatatkan peningkatan volume penjualan CPO sebesar 4,9% menjadi 288.941 mt dibandingkan capaian penjualan tahun lalu sebesar 275.320 mt. 

Selain itu, ANJT juga berhasil menjual sebanyak 1.049 mt PKO, meningkat 13,1% secara tahunan. Namun, volume penjualan PK mengalami penurunan sebesar 4,4%, sejalan dengan penurunan produksi PK.

Baca Juga: Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Targetkan Produksi TBS Meningkat 6% pada 2024

Di tahun 2023, ANJ mencatatkan total pendapatan sebesar US$ 236,5 juta, turun 12,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya harga jual rata-rata (HJR) untuk CPO, PK dan PKO serta penurunan volume penjualan PK.

HJR CPO turun 12,9% menjadi US$ 731 per mt dibandingkan US$ 840 per mt pada tahun lalu. Selain itu, HJR PK juga turun 36,0% menjadi US$ 358 per mt dan HJR PKO turun 33,1% menjadi US$ 734 per mt di tahun 2023

Dalam paparannya, Nopri menjelaskan bahwa laba bersih ANJ juga mengalami penurunan menjadi USD 1,9 juta pada tahun 2023, turun dari US$ 21,2 juta dibandingkan tahun sebelumnya. 

"Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh HJR yang lebih rendah, ditambah dengan peningkatan biaya depresiasi dan bunga pada tahun 2023," jelasnya, Jumat (1/3).

Selain itu, biaya operasi perkebunan yang baru menghasilkan di Papua Barat Daya, serta dari area penanaman kembali di perkebunan Sumatra Utara I dan Pulau Belitung juga mengalami peningkatan. Sementara, produksi dari perkebunan-perkebunan tersebut diproyeksikan akan mencapai level optimal sekitar dua hingga tiga tahun ke depan.

Nopri mengungkapkan bahwa ANJ optimis produksi CPO dalam jangka panjang akan terus meningkat, seiring dengan profil usia perkebunan yang masih berada pada usia produksi prima.

Ia melanjutkan, tahun ini pihaknya akan terus menggenjot produksi TBS dan CPO. ANJT memproyeksikan produksi TBS akan meningkat sebesar 6,0% dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini akan didukung oleh peningkatan produksi dari kebun muda di Papua Barat Daya, serta tanaman hasil replanting yang sudah memasuki usia menghasilkan. 

"Kami juga berharap volume pembelian TBS luar akan meningkat dan mampu mencapai volume produksi CPO di atas 300.000 mt di tahun ini," jelas Nopri. 

 

Untuk mendukung target produksi tersebut, tahun ini ANJ telah menganggarkan belanja modal sebesar US$ 36,8 juta. 

Sebagian besar belanja modal ini dialokasikan untuk mendanai beberapa program yang mendukung peningkatan produktivitas perusahaan, meliputi program penanaman  kembali (replanting) di perkebunan Pulau Belitung dan Sumatra Utara I,kompensasi lahan di perkebunan ANJ di Sumatra Selatan, laterisasi jalan, perumahan karyawan dan pembangkit listrik untuk pabrik di perkebunan Papua Barat Daya, proyek peninggian dan penguatan tanggul sungai di perkebunan Sumatra Utara II, serta fasilitas pengomposan di Sumatra Utara I yang akan menjadi pabrik kompos keempat yang dimiliki ANJ.

"Kami percaya program-program tersebut akan mendukung peningkatan produktivitas kami di tahun-tahun mendatang, dikombinasikan dengan inovasi-inovasi dalam praktik agronomi diharapkan dapat menghasilkan produktivitas yang maksimal.

Selain itu, kami juga berkomitmen untuk melanjutkan inisiatif untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang telah dijalankan ANJ sejak 2012 dengan mengintegrasikan praktik ESG kedalam strategi bisnis perusahaan untuk mencapai target nol emisi karbon(net zero emissions) pada tahun 2030," tutup Nopri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×