kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Ini Penyebab Harga BBM RON 92 dan RON 95 Belum Ikut Turun pada Awal Juli 2026


Rabu, 01 Juli 2026 / 19:42 WIB
Ini Penyebab Harga BBM RON 92 dan RON 95 Belum Ikut Turun pada Awal Juli 2026
ILUSTRASI. Penyesuaian harga BBM non-subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia serta mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) dan badan usaha niaga swasta yakni BP-AKR dan Shell kompak menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis diesel mulai 1 Juli 2026. Hanya saja, penurunan harga ini belum dibarengi dengan harga bensin Research Octane Number (RON) 92 dan RON 95.

Pertamina menurunkan harga empat produk BBM, yakni: Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur. Berikut rinciannya:

Pertamax Turbo, turun dari Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter. Penurunan sebesar Rp 1.450 per liter atau sekitar 7%.

Pertamina Dex, turun dari Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter. Penurunan sebesar Rp 3.650 per liter atau sekitar 15%.

Dexlite, turun dari Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter. Penurunan sebesar Rp 3.300 per liter atau sekitar 14%.

Avtur Penerbangan Domestik (sebelum pajak) di Soekarno Hatta turun dari Rp 22.190 per liter (Juni) menjadi Rp 19.190 per liter (Juli). Penurunan sebesar Rp 3.000 per liter atau sekitar 14%.

Baca Juga: Porsi Pengguna Paket Rollover 3%-5%, Operator Seluler Akan Kembangkan Layanan?

Di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) swasta, harga BP Ultimate Diesel mengalami penurunan Rp 3.720 per liter dari sebelumnya Rp 25.060 kini dibanderol seharga Rp 21.340 per liter. Sedangkan harga Shell V-Power Diesel turun Rp 3.150 per liter dari sebelumnya Rp 24.490 menjadi Rp 21.340 per liter.

Penurunan harga belum terjadi pada BBM non-subsidi RON 92 dan RON 95. Pertamina masih membanderol Pertamax di harga Rp 16.250 per liter. Begitu juga dengan Pertamax Green yang masih berada di harga Rp 17.000 per liter.

Di SPBU swasta, harga BP 92 dan BP Ultimate belum mengalami perubahan. BP 92 masih dibanderol sebesar Rp 16.670 per liter, dan Rp 17.240 per liter untuk BP Ultimate. Sebelumnya, BBM jenis RON 92 dan RON 95 baru mengalami kenaikan harga pada 10 Juni 2026. 

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora mengungkapkan bahwa penyesuaian harga merupakan bagian dari evaluasi berkala sesuai mekanisme yang berlaku. Kebijakan ini mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia, pertimbangan aspek fiskal serta daya beli dan perekonomian masyarakat.

Penyesuaian harga BBM non-subsidi mengacu pada  dinamika harga pasar minyak dunia serta mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Kitty pun menegaskan, penyesuaian harga BBM non-subsidi ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah.

Melalui evaluasi tersebut, Pertamina menurunkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur. Sedangkan untuk harga Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih menunggu perkembangan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Baca Juga: Mandatori E5 Terancam Defisit, Indonesia Diproyeksi Impor 1,5 Juta KL Bioetanol

"Terkait penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta  melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty kepada Kontan.co.id, Rabu (1/7/2026).

Manajemen BP-AKR juga menyatakan bahwa penyesuaian harga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Termasuk dinamika harga energi global, kondisi pasar, biaya pengadaan produk, serta ketentuan yang berlaku di sektor energi.

"Penyesuaian harga merupakan bagian dari mekanisme industri, perusahaan melakukan evaluasi, penyesuaian operasional, dan implementasi harga secara berkala sesuai ketentuan ketentuan yang berlaku," ungkap keterangan yang disampaikan Manajemen BP-AKR.

Dihubungi terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi memandang penurunan harga solar non-subsidi, Pertamax Turbo, dan avtur akan mengurangi biaya operasional sektor transportasi, logistik, industri, dan penerbangan. Kholid berharap penyesuaian harga ini akan menjadi sinyal positif yang membangkitkan kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Kholid mengungkapkan bahwa penetapan harga BBM tidak hanya didasarkan pada harga minyak di satu titik waktu. Tetapi juga melihat tren harga, biaya persediaan (inventory cost), nilai tukar rupiah, serta keberlanjutan bisnis. 

Apalagi, dunia masih menghadapi ketidakpastian pasar energi global karena labilnya situasi di Selat Hormuz. Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga terkait dengan strategi korporasi di masing-masing badan usaha.

Kholid menyoroti keputusan Pertamina mempertahankan harga RON 92 dan RON 95, yang kemungkinan bisa jadi merupakan bagian dari strategi korporasi memulihkan biaya keekonomian Pertamax dan Pertamax Green yang ditahan selama beberapa bulan sebelumnya. Dalam hal ini, Kholid menekankan pentingnya konsistensi dan transparansi dalam mekanisme penyesuaian harga maupun penyediaan energi.

"Jika tren harga minyak dunia turun, penurunan harga BBM akan menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen. Penyedia energi juga perlu transparan terkait dasar perhitungan harga, sehingga masyarakat memahami mengapa suatu jenis BBM turun sementara lainnya tetap," kata Kholid kepada Kontan.co.id, Rabu (1/7/2026).

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi sudah cukup ideal sebagai respons terhadap harga pasar. Penurunan harga terlebih dulu dilakukan kepada BBM non-subsidi jenis diesel, Pertamax Turbo dan Avtur yang terlebih dulu mengalami kenaikan harga.

"Sementara waktu itu Pertamax RON 92, dan RON 95 yang seharusnya ikut naik, tetapi tetap ditahan oleh pemerintah. Sehingga saat ini masih dihitung penyesuainnya," kata Setya.

Sementara itu, Pengamat Migas dan Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo mengingatkan bahwa harga BBM non-subsidi berbanding lurus dengan harga minyak mentah (crude) internasional. Hanya saja, penyesuaian harga tidak bisa dilakukan dengan sertamerta, melainkan berbasis bulanan sesuai patokan Indonesian Crude Price (ICP) yang diterbitkan setiap bulan.

Hadi menjelaskan, penurunan harga crude dengan acuan Brent dari US$ 95 menjadi sekitar US$ 83 per barel dipicu oleh nota perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Jika eskalasi konflik terus menurun dan diikuti pembukaan blokade oleh kedua pihak, maka dalam jangka menengah harga crude berpotensi kembali normal ke sekitar US$ 60 - US$ 70 per barel.

Hadi mengestimasikan, harga keekonomian Pertamax masih di sekitar Rp 17.400 per liter dengan asumsi rata-rata harga Brent masih di sekitar US$ 95 pada bulan Juni dan asumsi kurs sekitar Rp 17.500 per dolar AS. Dengan skenario rata-rata harga crude akan kembali ke US$ 70 per barel, maka peluang harga Pertamax kembali melandai ke sekitar Rp 12.800 akan semakin terbuka.

"Daya beli sedang rendah, sehingga (penurunan harga BBM Subsidi) sangat membantu masyarakat luas. Tren harga minyak dunia akan menuju US$ 70 per barel, bahkan mungkin ke US$ 60 per barel. Artinya harga minyak akan kembali normal setelah nota perdamain Iran vs AS berlanjut," tandas Hadi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×